Google

Friday, May 16, 2008

Setiap Ganti Presiden BBM Naik


Judul di atas sebenarnya sudah berupa kesimpulan. Faktalah yang berbicara, siapapun orangnya yang memimpin negeri ini sepertinya tidak akan kuat untuk tidak ikut-ikutan menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM sudah menjadi hal biasa, jadi kenapa harus terlalu dipermasalahkan atau dipusingkan?

Apa benar orang-orang yang demo itu benar-benar sedih dengan naiknya BBM? Atau mereka hanya terprovokasi saja? Tapi, kalau dilihat sepintas sih memang jelas mereka kecewa dengan keputusan pemerintah SBY-JK, sampai-sampai jerigen (tempat minyak tanah) mereka buat seperti bola sepak, ditendang sana, tendang sini, oper sana, oper sini, kadang-kadang juga di smash atau dibanting-banting. Ibu-ibu tampak beringas pada barang yang biasa disayanginya.

Sungguh bentuk sindiran yang telak! Bagaimana ibu-ibu rumah tangga dengan pakaian khasnya (daster) bermain bola "jerigen" yang biasanya mereka gunakan untuk tempat menyimpan minyak tanah. Terlalu berlebihan? Tidak sih, justru mereka terlihat ekspresif walaupun kadang sambil tersenyum atau tertawa bersama.

Kenaikan BBM yang rencananya akan diberlakukan akhir Mei ini memang ditanggapi beragam oleh masyarakat. Ada yang biasa saja, ada yang sangat pasrah, ada yang sangat cemas, ada yang stress, ada yang marah-marah, bahkan ada juga yang turun ke jalan mereka berdemo menuntut SBY-JK atau menteri Purnomo Yusgiantoro untuk turun. Apa ini perlu? Dalam konteks sebuah negara demokrasi kejadian-kejadian demonstrasi nampaknya sudah menjadi satu keharusan. Demo itu harus ada di negara yang mengaku demokratis. Demikian halnya juga dengan Indonesia. Ada semacam analogi sederhana; Indonesia adalah negara demokrasi, di negara demokrasi, demonstrasi sudah menjadi hal biasa. Kesimpulannya, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, demonstrasi sudah biasa terjadi. Maka tidak heran kalau Wapres Jusuf Kalla mengatakan tidak takut dengan ancaman dan gelombang demonstrasi yang lebih besar untuk menolak rencana kenaikan BBM (Kompas, Jumat 16 Mei 2008). Wajar saja kalau beliau tidak takut, karena beliau sadar betul negara Indonesia ini adalah negara demokratis. Justru kalau tidak ada demonstrasi, negara ini bisa-bisa dicap sebagai negara yang dipimpin oleh penguasa otoriter.

Hidup di Indonesia harus membiasakan diri dengan naiknya BBM. Buat Anda yang bergaji besar dan hidup di atas garis kekayaan mau naiknya seberapa besarpun pasti tidak jadi soal. Akan tetapi, lain halnya bagi rakyat lainnya yang jumlahnya jauh lebih besar. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan atau mungkin di dasar jurang kemiskinan tentunya akan menjerit, karena jelas hal ini akan semakin membuat mereka hidup miris dan terjepit di negara yang sebenarnya kaya raya ini.

Syekh Salthut ketika berkunjung ke Indonesia sangat kagum dengan keindahan dan kesuburan alam Indonesia, sehingga sang syekh menyebut negeri ini adalah potongan surga. Sekarang potongan surga ini sudah menjelma menjadi potongan surga yang salah urus. Hutan-hutan dibabat, pohon-pohon ditebas, alam tidak lagi dijadikan sahabat, sebaliknya terus disakiti. Jangan heran kalau satu saat alam juga yang marah, sekarangpun sudah banyak terjadi. Sebenarnya marahnya hanya pada satu dua orang saja, tapi imbasnya bisa dirasakan banyak orang.

Bagaimanapun juga, ke depan jalan masih panjang, harapan harus selalu tetap ada. Ingat, putus asa adalah dosa. Walaupun setiap ganti presiden BBM selalu saja naik, kita harus tetap berusaha, berdoa, dan tawakkal kepada-Nya. Tantangannya adalah, bisakah negara ini suatu saat nanti menghentikan tradisi BBM naik setiap ganti presiden? Mungkin saja bisa dengan syarat presidennya harus benar-benar sakti mandarguna dalam arti benar-benar ahli mengerahkan potensi SDM dan SDA, jangan sampai bisa tapi hasil utang sehingga nantinya rakyat juga yang susah, atau minimal malu karena punya negara yang utangnya banyak seperti zaman orde baru.

Wednesday, April 16, 2008

KETIKA CINTA KEMBALI KE KHITOH


Cinta itu suci, cinta itu murni, cinta itu malu merah merona, cinta itu tersenyum simpul, cinta itu diam hanya anggukan tersamar, cinta itu menembus jantung menggetarkan batin, cinta itu rindu, cinta itu menancapkan sebuah nama di lubuk kalbu, cinta itu indah, cinta itu senyum, cinta itu mendebarkan, cinta itu sulit diungkapkan, cinta itu anugerah ilahiah, cinta itu sunatullah, cinta itu agung, cinta sejati itu hanya bersandar dan berpasrah pada kebesaran cinta-Nya.

Hari ini saya menulis tentang cinta, karena beberapa fenomena percintaan yang terjadi belakangan ini. Yang paling menarik bagi saya antara lain; fenomena boomingnya Ayat-ayat Cinta, dan yang paling aktual adalah pernikahan ketua MPR Ustadz Hidayat Nur Wahid. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu kisah seorang teman yang tinggal di Istanbul Turki yang hari-harinya sedang dihujani dengan butiran-butiran merah muda bercahayakan cinta untuk seorang gadis teman kuliah (namanya sengaja saya tidak sebutkan demi privasinya, terlebih lagi dia begitu pemalu).

Dari ketiga fenomena percintaan yang saya ungkapkan di atas, terlihat adanya kesamaan; cinta diletakkan pada posisi sejatinya; begitu agung, suci, dan indah. Tidak ada proses pacaran yang terlalu lama, tidak ada sentuhan fisik, tidak ada pemaksaan kehendak, tidak ada amarah yang meledak-ledak, dan tidak ada kata cinta terucap. Yang ada hanyalah pergulatan batin sang tokoh, keinginan untuk menyempurnakan agama dan diri di hadapan Allah, dan hasrat untuk memiliki dengan tetap bersandar pada ridho dan kebesaran cinta-Nya. Sungguh indah tak terkira dan tak terlukiskan.

Pernah satu saat saya mendengar seorang teman berbicara seperti ini, “cinta sejati itu tidak ada!” Cinta sejati yang dimaksud adalah cinta antara dua manusia yang dimabuk asmara. Karena pada suatu saat, sangat mungkin dan pasti terjadi, cinta itu meluntur, memudar, kalau tidak padam sama sekali setelah melalui pertengkaran yang hebat, atau terpisahkan oleh ajal yang menjemput. Adapun cinta sejati seperti yang ada pada lirik-lirik lagu pop itu sebenarnya hanyalah demi kepentingan inustri dan budaya pop semata. Saya sangat setuju dengan pendapat teman saya yang musisi gitar lulusan ISI itu, bagaimanapun juga cinta sejati tidaklah bergaris horizontal, melainkan vertikal lurus dari jiwa-jiwa yang tenang penghuni bumi menuju Arasy ke hadlirat Allah SWT.

Saya di sini berpendapat momentum percintaan seperti tiga kisah cinta di atas, dapat membuka jalan yang sangat luas, lapang dan terang menuju kesejatian cinta bertahta. Memang benar kiranya, untuk membendung segala tipu daya gemerlap duniawi yang datang tak kunjung henti dan datang dengan genderang perang, semestinya disikapi dengan mengembalikan makna cinta yang sesungguhnya. Ini dapat terwujud ketika orang tua mengajari cinta Ilahi sejak dini, memagari anak dengan budi pekerti yang luhur dan norma-norma yang menjunjung tinggi kesalehan individu dan sosial. Sudah saatnya cinta kembali ke khitohnya yang suci, agung, dan indah.

Ketika hal ini sudah terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia keluar dari urutan negara paling korup sedunia, akan makin sedikit kasus-kasus aborsi illegal buah pahit dari kecelakaan dan salahnya manajemen syahwat, makin sedikit pula kasus-kasus ibu yang tega membuang bayinya sendiri (naudzubillah!!!). Semoga makin bersih dan berjayalah pula negara ini nantinya. Semoga.

Thursday, April 10, 2008

Slank Terselamatkan Al Amien (Apalah Arti Sebuah Nama)

Hari ini saya membaca headline koran Jawa Pos, tertulis "DPR Batal Gugat Slank". Ya bisa jadi sih memang gara-gara Mas Al Amien itu. Saya koq rada gak sreg ya nulis "Al Amien", masalahnya ini kan gelar yang diberikan kepada panutan umat Islam, Nabi Muhammad saw, karena kejujurannya. Sementara Al Amien yang anggota komisi IV DPR itu, waduh jelas bedalah dengan Al Amien-nya Nabi. Mungkin harapannya dulu orangtua Mas Al (sebutan ini lebih enak deh kayaknya), biar si anak terkenal kejujurannya seperti Nabi saw. Tapi kenyataannya? Naudzubillah, sangat nista, seorang wakil rakyat, malah makan uang suap demi lancarnya pengalihfungsian hutan lindung menjadi kawasan industri dan ibukota Bintan.

Menurut Anda para tamu kehormatan blog saya ini, apakah benar lirik Slank itu terbukti nyata? Perhatikan ya, nih liriknya:
"
Mau tau gak mafia di Senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
."

Salut ya buat keberanian Slank. Mereka jadi ikon musik Indonesia, hidup di dunia gemerlap selebritis tapi nurani tetap jalan, mendengarkan suara-suara akar rumput yang nyaris tak terdengar (baca: didengar, red). Persis seperti lantangnya Iwan Fals zaman dulu.

Malu tidak ya anggota DPR yang lainnya? Harusnya malu dong, paling tidak ini adalah semacam warning, biar berpikir matang sebelum bertindak. Jangan tergoda dengan uang haram. Saya jadi ragu, benar tidak sih, kalau anggota dewan yang terhormat itu gajinya cukup besar? (Koq ya masih ada yang korupsi gitu lowh...) Tapi namanya juga manusia sih, mana ada yang tahan lihat duit banyak depan mata. (Saya saja mungkin nggak tahan tuh hehe)
Makanya, pikir-pikir lagilah yang punya niat jadi pejabat, wakil rakyat, atau sebagainya. Godaannya terlalu berat. Ingat kata Zainuddin MZ, "harta, tahta, wanita, bisa bikin orang buta."
Akhir kata, Masya Allah, please ya Tuhan kami, berilah kami pemimpin yang benar-benar Al Amien. Kami tidak butuh pemimpin-pemimpin bernama bagus, tapi kelakuannya tidak patut kami tiru. Mendingan namanya Paijo, si Bedul, si Sontoloyo, si Dadap atau si Waru, tapi perilakunya jujur seperti Al Amien yang hidup di zaman Jahiliyyah Arab dulu. Amiiieeen.

Wednesday, March 12, 2008

NADA MIRING SELALU ADA


Suka musik atau bisa memainkan alat musik, misalnya gitar atau piano? Kalau Anda bisa, pasti tahu, pada tangga nada do,re,mi itu, pasti ada nada yang turun atau naik setengah. Selain kita mengenal nada mayor dan minor, kita juga kenal dengan nada yang turun setengah (mol) dan nada yang naik setengah (kres). Inilah yang disebut dengan nada miring.

Nah, dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar istilah komentar miring atau nada miring. Lebih ilmiah lagi kalau kita menyebutnya dengan istilah kritik yang tidak membangun. Maksudnya, kritik yang ditujukan untuk melemahkan atau menyerang sebuah tulisan, karya, komentar, atau pembicaraan lawan. Sudah barang tentu, jika dilihat dari tujuannya pastilah mengarah ke hal yang negatif.

Contoh dari nada miring ini, banyak sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari, dari mulai contoh kecil, remeh-temeh bin ringan, sampai contoh yang agak berat. Untuk contoh yang kecil-kecil misalnya, Anda sudah bekerja sekuat tenaga dengan hasil yang menurut Anda sudah perfect, cum laude atau maksimal atau sangat memuaskan semua pihak. Tapi, ternyata tanpa diduga teman Anda sendiri malah mengatakan, "hmmm... biasa aja tuh...", atau lebih menohok lagi kalau dia menagatakan, "jelek amat sih...", atau "kurang inilah, kurang itulah...".

Contoh yang agak besar dan berat misalnya terjadi dalam perdebatan calon Presiden AS, antara Obama dan Hillary Clinton. Keduanya terus berusaha untuk menggali sisi lemah lawan politiknya, sehingga berhamburanlah nada-nada miring dari mulut keduanya. Contoh lainnya, ini terjadi ketika UGM kerjasama dengan Kedubes Inggris mengadakan pameran fotografi Islam karya Peter Sanders. Waktu itu yang menjadi pembicara dalam pembukaan pameran adalah; dubes Inggris, rektor UGM, budayawan Cak Nun, dan antropolog UGM Prof. Heddy Ahimsa Putra. Nah, waktu tamu undangan dan media sedang melihat-lihat foto hasil jepretan Peter Sanders, tiba-tiba ada yang nyeletuk dengan nada yang sangat miring, "Ngapain juga Cak Nun mengupas tentang pameran ini menurut persepsi dia, harusnya biarkan saja kita-kita ini sebagai penikmat yang menilai bagaimana foto-foto ini. " Komentar ini dilontarkan seorang bapak-bapak, sepertinya seorang dosen, kepada dua orang mahasiswi yang ada di ruangan pameran, tepatnya di sekitar halaman Masjid Kampus UGM itu.

Coba Anda ingat-ingat, pernahkah Anda mengalami dihujani nada-nada miring? Misalnya soal gaya berpakaian, soal pekerjaan, soal karya yang Anda buat, dan lain sebagainya. Ada saja nada miring itu kan? Beberapa tulisan di blog orang, termasuk blog saya ini (hehehe..), juga banyak yang berisi tentang komentar atau nada miring. Tapi, kita lihat kritik yang disampaikan itu membangun atau sebaliknya, dan jangan salah, ternyata nada miring itu juga bisa menghasilkan uang loh... Lihat saja, disekitar kita, betapa banyak kritikus-kritikus atau komentator-komentator bermunculan untuk berbagai disiplin ilmu. Menakjubkan kan? Dengan mengkritik, mereka bisa terkenal, muncul di tv, jadi selebriti, menjadi tokoh, menjadi idola, jadi ikon, menjadi sukses, bisa jadi juga jadi presiden, atau menjadi banyak uang alias kaya raya.

Sepertinya kita hidup di dunia ini memang harus siap mengahadapi kritik atau nada miring. Ya... apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat, nada miring akan selalu hinggap, nada miring akan selalu datang dengan senyumnya yang sinis menawan.

Thursday, January 17, 2008

ANTARA SOEHARTO, PAK HARTO, DAN MANTAN PRESIDEN SOEHARTO


Dunia mengenal nama Soeharto sebagai salah satu presiden yang cukup lama berkuasa di sebuah negara. Di Afrika, juga dikenal presiden Ganssingbe Eyadema yang menjabat sebagai Presiden Togo setelah mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 1967, dan masih memenangkan pemilu di tahun 2003 (Koran Tempo, Senin, 7 Februari 2005).
Soeharto yang juga biasa dipanggil Pak Harto, begitu dikenal dan disegani sebagai orang nomor satu di republik ini. Terlepas dari kebijakan dan trik-trik politik yang dijalankan pemerintahannya waktu itu, sebagian besar tentunya kita tahu dan sangat mengenal senyumnya yang khas, dan gaya bahasanya dengan idiolek tersendiri, misalnya penggunaan akhiran –ken, penggunaan kata “daripada” yang seringkali tidak tepat dalam penempatannya.

Mari kita cermati saja apa yang sekarang ini terjadi ditengah santernya pemberitaan mengenai sakitnya sang jendral besar itu. Banyak media seperti tidak mempunyai keseragaman dan konsistensi dalam menulis atau memberitakan tentang sang mantan presiden itu. Hal ini bisa dilihat dari media televisi misalnya. Ketika presenter membaca berita utama yang berjudul “Sakitnya Soeharto”, si reporter yang terjun di lapangan melaporkan dengan berulang kali mengatakan, “Pak Harto”. Tapi, ketika terjadi dialog antara presenter dengan reporter, si presenter akan mengikuti sang reporter dengan mengatakan, “Reporter… bagaimana keadaan Pak Harto sampai saat ini?”

Tentunya kejadian di atas hanya sebuah contoh kecil dari inkonsistensinya media ketika memberitakan tentang sang mantan presiden yang bernama asli Soeharto itu. Masih banyak contoh lainnya yang sebenarnya masih bisa dipaparkan di sini.

Bisa jadi ketika sebuah media massa memberitakan Soeharto dengan beragam pemberitaan dari mulai sakitnya, perjalanan hidupnya, keluarganya sampai berbagai kisah-kisah uniknya, memang semua itu sudah diberikan pakem-pakem yang harus dipatuhi oleh setiap wartawan, reporter, presenter, atau kontributor. Termasuk dalam hal pemilihan kata; memakai Soeharto saja, Pak Harto, atau berulang kali menyebut Mantan Presiden Soeharto.



Rasa Bahasa

Sebuah media yang pemilik saham terbesarnya adalah orang yang sangat dekat atau salah satu dari keluarga cendana, tentunya tidak akan memilih kata Soeharto. Secara rasa bahasa, hal ini akan terdengar atau terlihat kurang sopan. Sebagai orang timur yang diajarkan untuk menghormati orang tua atau orang yang usianya lebih tua, tentunya hal ini akan sangat penting. Mengingat tidak mungkin, seseorang akan menyebut langsung nama orang, padahal orang itu usianya sama dengan orang tua kita.

Rasa bahasa, memang memainkan peran signifikan pada saat seorang editor bahasa menghadapi naskah-naskah berita/ feature/ wacana opini dari wartawan atau penulis. (Jokomono, Suara Merdeka, 3 September 2003). Bagaimana dengan frasa “Pak Harto”? Justru inilah yang secara rasa bahasa, sangatlah sopan, menghormati, dan menghargai. Frasa “Pak Harto” dapat disejajarkan dengan frasa “Bung Karno”, “Bung Tomo”, “Bu Mega”, “Pak Amien” atau “Gus Dur”. Artinya ketika kata sandang itu dilekatkan dengan nama orang, akan sangat berdampak pada etika. Tentunya hal ini tidak terlepas dari nilai culture yang ada di Indonesia.

Adapun frasa yang sangat netral adalah “mantan presiden Soeharto”. Walaupun secara gramatikal frasa ini agak janggal – seharusnya mantan presiden RI, Soeharto-- tapi dari segi etika dan kenetralan berita, frase ini cukup banyak digunakan oleh para wartawan atau penulis. Sang editor, wartawan, reporter, atau penulis akan merasa netral dan tidak terlalu terbebani dengan predikat sopan-tidak sopan atau memihak-tidak memihak.



Fenomena Bahasa

Penyebutan “Soeharto”, “Pak Harto”, atau “mantan presiden Soeharto”, yang sudah terjadi sejak mantan penguasa orde baru itu lengser, merupakan sebuah fenomena bahasa yang cukup unik. Dari penggunaan salah satu penyebutan itu, kita dapat mengetahui mana media yang secara konsisten sangat menghormati atau membenci sang jendral besar yang sekarang sedang sakit dimakan usia itu. Pun kita juga dapat mengetahui mana media yang sangat netral dalam pemberitaannya. Bagaimana dengan Anda?

Monday, December 17, 2007

MAMAMIA OH MAMAMIUL


Lagi-lagi ngomentarin tv. Habis, mau bagaimana lagi, di rumah, media yang bisa dinikmati secara audio visual kan memang cuma tv.


Yuk, kita sekarang ngomentari soal acara Mamamia. Selagi masih bisa komentar, kenapa tidak? Iya kan?

Sebenarnya acara yang dipandu Eko Patrio itu, secara rating lumayan (ini katanya lho). Tapi, rating tinggi memang tidak mewakili kualitas kan? Yup, betul itu! Bahkan terbalik 180x2 derajat.

Acara Mamamia ini hanya sekedar penggambaran betapa banyak orang tua kita yang habis-habisan dalam mengeksploitasi anak-anak mereka.

Tapi kan anaknya juga mau dieksploitasi? Itulah salah satu faktor penyebabnya. Jadi sejujurnya dua-duanya klop! Anaknya ingin tenar, ingin jadi artis, ingin jadi selebritis. Nah... si mama ingin membantunya sekuat yang dia bisa.

Disinilah kemudian muncul, kesimpulan sederhana, menjadi artis itu adalah segala-galanya. Apapun harus dilakukan! Karena menjadi artis pasti duitnya banyak!!! Simple kan?

Coba bayangkan, apa jadinya bangsa ini kalau pikiran semua ibu-ibu sama seperti pikiran ibu-ibu yang ikut Mamamia itu? Apa tidak gaswat bangsa ini? (Maaf saya memang agak berlebihan, dan sok perhatian pada hal kecil seperti ini). Tapi, jangan salah, kalau memang betul rating acara ini tinggi, artinya pola pikir semacam para "mama" itu bisa saja "menular" secara cepat kepada seluruh "mama" yang ada di Indonesia ini. (Maaf, lagi-lagi saya terlalu berlebihan).

Soal tayangan Mamamia ini teman saya di friendster pernah bilang begini, "Itu kan tayangan yang menggambarkan seorang ibu yang ingin anaknya masuk ke neraka!" Wuih, syereeemm amat ya. Kalau saya sih tidak seekstrim itu, cuma memang risih saja sih pas melihat, seorang ibu yang berjilbab sangat rapat, eh anak yang didampinginya malah memakai baju jenis vitamin A (maksudnya bagus untuk "kesehatan" mata para lelaki, red).

Ini sajalah uneg-uneg saya tentang Mamamiul eh Mamamia. Ada yang mau coments?

Saturday, October 27, 2007

Aliran Sesat Al Qiyadah


Masya Allah... begitu mudahnya orang bernama Ahmad Mosadeq itu mengaku Nabi baru, begitu mudahnya lidah orang biasa itu mengaku rosul, begitu mudahnya dia mengubah syahadat, begitu mudahnya dia membai'at orang untuk mengimaninya, begitu mudahnya dia untuk mempermainkan rukun Islam, begitu mudahnya dia mengajak orang orang lain tersesat seperti dirinya, begitu mudahnya dia mencorat-coret Al Qur'an, dan begitu mudah orang yang mengaku bernama Ahmad Mosadeq itu melakukan semua kebohongan itu.

Ada apa ini sebenarnya? Berbagai macam kemungkinan bisa menjadi penyebabnya. Kemungkinan pertama, Musadeq telah disesatkan syetan. Ketika dia mengikuti cara nabi untuk menerima wahyu, dia didatangi syetan idajil laknatullah. Bedanya hanya masalah tempat dan yang datang menghampirinya. Kalau Nabi Muhammad saw di Gua Hiro, si Musadeq ini di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Dari nama tempatnya saja (Gunung Bunder, red) sudah sangat tidak meyakinkan sama sekali.

Kemungkinan kedua, boleh jadi yang dikhawatirkan teman-teman FUI (Forum Umat Islam) memang benar. Ada sebuah sistem yang memang disengaja dan direncanakan untuk memecah belah umat Islam di Indonesia tercinta ini. Tapi, kemungkinan ini masih perlu pembuktian atau investigasi yang mendalam dan menyeluruh, termasuk menelusuri dari mana pasokan dana yang membiayai semua kegiatan Al Qiyadah Al Islamiyah Mosadeq dan pengikutnya.


Nabi Palsu Sudah Ada sejak Dulu

Nabi-nabi palsu seperti si Mosadeq ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak zaman Nabi Muhammad saw sudah ada, seperti Musailamah al-Kadzdzab dan Aswad al-’Ansiy. Untunglah dia hidup Indonesia, coba kalau hidup di negara-negara Islam jazirah Arab, kemungkinan besar dia sudah divonis mati.

Selengkapnya tentang sejarah Nabi palsu ini, saya copy paste semua saja dari Ar Risalah On line. Selamat membaca, semoga menjadi tambahan pengetahuan.



Klaim Nabi Palsu

(33) Setiap klaim kenabian setelah beliau (Nabi Muhammad saw) adalah kesesatan dan hawa nafsu

Konsekuensi dari keyakinan bahwa Nabi Muhammad n adalah nabi yang terakhir dan penutup para nabi, dapat dipastikan bahwa setiap orang yang mengklaim atau mendakwakan diri sebagai nabi, maka dia adalah seorang pendusta. Sekalipun orang yang mengaku sebagai nabi itu mendatangkan sesuatu di luar kebiasaan. Sebab sesuatu yang di luar kebiasaan itu bisa saja didatangkan oleh seseorang dengan bantuan setan.

Jauh-jauh hari, Nabi Muhammad n telah memberitahukan kepada kita akan adanya orang-orang yang akan mengaku sebagai nabi. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya akan ada tigapuluh orang pendusta di tengah-tengah umatku. Semuanya mengklaim sebagai nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Di antara para nabi palsu itu ada yang berani mengklaim diri sebagai nabi sebelum Rasulullah n wafat. Adalah Musailamah al-Kadzdzab dan Aswad al-’Ansiy. Sebelum keduanya mendakwakan diri sebagai nabi, Rasulullah n sudah diberitahu oleh Allah tentang ihwal keduanya. Beliau bersabda, “Ketika aku sedang tidur, dibawakan kepadaku perbendaharaan bumi, kemudian diletakkan dua gelang emas di atas kedua telapak tanganku, maka beratlah terasa olehku. Kemudian diwahyukan kepadaku, supaya aku meniup kedua gelang itu. Maka kutiup keduanya. Aku takwilkan keduanya itu dengan dua orang pendusta, yang aku berada di antara keduanya. Orang itu ialah penguasa Shan’a dan penguasa Yamamah.”
Berikut ini sekilas tentang beberapa orang yang mendakwakan diri sebagai nabi itu:
Aswad al-’AnsiyNama Aswad al-’Ansiy sebenarnya adalah Abhalah bin Ka’ab al-’Ansiy. Dia adalah kepala Bani Madzhij di daerah Yaman. Dia seorang tukang tenung (santet), tukang sihir, dan seorang yang kaya raya di Shan’a. Dia sangat berpengaruh di kalangan kaumnya dan banyak yang terpikat kepadanya karena kelebihannya. Banyak orang yang kagum kepadanya karena menyaksikan sihirnya yang menakjubkan. Pada akhir tahun ke-10 Hijriyah, Aswad telah memproklamir-kan diri sebagai nabi yang ditunjuk oleh Allah. Menurut pengakuannya dia didampingi oleh dua malaikat yang memberitahukan kepadanya apa saja yang telah dan akan terjadi. Kedua malaikat itu bernama Suhaiq dan Syuqaiq. Sebenarnyalah kedua makhluk yang mendampingi Aswad adalah setan yang biasa mendampingi tukang sihir dan tukang tenung.Setelah Aswad mendakwakan diri sebagai nabi, dia mendapat pengikut yang tidak sedikit. Dalam waktu singkat, dia telah menaklukkan beberapa suku yang berdekatan dengan kabilahnya. Akhirnya, dia dapat merebut kerajaan yang berada di bawah pemerintahan Syahar bin Bazan, gubernur yang diangkat oleh Nabi n di bawah pemerintahan Islam Madinah, yang berkedudukan di Shan’a.
Setelah mendengar berita bahwa ibu kota negeri Yaman telah ditaklukkan oleh Aswad al-’Ansiy dan janda Syahar yang muslimah dipaksa menjadi gundik Aswad, Nabi n mengirim surat kepada Mu’adz bin Jabal, yang mengemban amanat dakwah di Yaman. Pesan Nabi n adalah sebagai berikut:
-Mu’adz dan kaum muslimin di bawah kepemimpinannya mestilah tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, dan jangan sampai tertipu atau terpengaruh oleh Aswad.-Kaum muslimin yang berada di Yaman harus bertindak tegas terhadap Aswad dengan cara memerangi dan merebut kembali daerah-daerah yang sudah dikuasainya.
Semua pesan Nabi n diperhatikan benar oleh kaum muslimin Yaman. Mereka berusaha untuk membinasakan Aswad dengan keyakinan, bila Aswad dapat dibunuh, para pengikutnya tentu akan bubar.Aswad berhasil dibunuh oleh Fairuz ad-Daylamiy di dalam istananya sendiri saat dia mabuk. Fairuz dapat membunuh Aswad atas bantuan Marzabanah, janda gubernur Syahar yang dipaksa menjadi gundik Aswad. Fairuz memenggal leher Aswad dan tamatlah riwayatnya.

Musailamah al-KadzdzabNama asli Musailamah adalah Harun bin Habib al-Hanafiy. Dia adalah kepala suku Yamamah. Pada tahun ke-10 Hijriyah, dia bersama rombongannya sebagai utusan dari Bani Hanifah datang menghadap Nabi n di Madinah dan memeluk Islam. Namun sekembalinya dari Madinah dia berbalik menjadi kafir, murtad. Dia mendakwakan diri sebagai Nabi. Musailamah mengirim surat yang dibawa oleh dua orang utusannya kepada Nabi n. Isi suratnya sebagai berikut, “Dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Kesejahteraan semoga dilimpahkan atasmu. Aku telah bersekutu dalam urusan kenabian ini denganmu dan bagi kami separuh tanah dan bagi Quraisy separuh tanah, tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”
Rasulullah n membalas surat Musailamah. Surat beliau berbunyi,“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah si pendusta. Kesejahtera-an semoga dilimpahkan atas orang yang mengikut petunjuk yang benar. Bahwasanya bumi itu milik Allah, akan diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari sekalian hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
Meskipun Nabi n telah menyatakan Musailamah sebagai pendusta, dia tetap mendakwakan diri sebagai utusan Allah. Bahkan, dia mengaku telah menerima wahyu. Puluhan ayat palsu disampaikannya kepada para pengikutnya. Musailamah berhasil mendapat banyak pengikut dari kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Yamamah. Akhirnya, dia dapat dibunuh dalam pertempuran Yamamah yang dahsyat itu. Musailamah dibunuh dengan tombak oleh Wahsyi, seorang budak dari Habasyah yang ketika masih kafir berhasil membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththallib dalam perang Uhud.

Mirza Ghulam AhmadMirza Ghulam Ahmad lahir di Qadiyan, India, pada tahun 1835. Mula-mula Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) dan pengikut Nabi Muhammad n. Namun dia juga mengaku menerima wahyu. Menurutnya, kedudukannya tidak sama dengan kedudukan Nabi Muhammad n karena Nabi n adalah Nabi terakhir dan tidak ada nabi lain setelahnya yang membawa syariat. Tetapi tidak menutup kemungkinan, Allah mengutus lagi nabi yang tidak membawa syariat. Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi yang tidak membawa syariat itu.Mirza Ghulam Ahmad berkata, “Nabi yang terakhir dan tunduk kepada Nabi n tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah nabi atau rasul dalam pengertian yang sebenarnya. Allah l memanggilku dengan sebutan nabi hanya berdasarkan isti’arah (kiasan) saja. Kenabianku merupakan pancaran dari kenabian Muhammad n Sebuah bayangan tidaklah memiliki wujud tersendiri atau wujud yang sebenarnya.”
Dia juga berkata, “Aku telah menyebutkan berkali-kali bahwa apa yang aku baca merupakan firman Allah l seperti halnya al-Quran dan Taurat. Aku adalah salah seorang nabi bayangan yang diutus oleh Allah l. Setiap muslim wajib taat kepadaku dan wajib mengimani bahwa aku adalah al-Masih yang dijanjikan akan datang. Karena itu, barangsiapa yang telah mengetahui dakwahku, tetapi dia tidak beriman kepadaku, maka sikapnya itu akan dihisab di akhirat, meskipun dia telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah l”
Dia juga berkata, “Al-Quran dan Nabi Muhammad n telah bersaksi atas kenabianku. Para nabi pun telah menentukan zaman kenabianku, yaitu zaman sekarang ini. Al-Quran juga telah menentukan zaman kenabianku itu. Langit dan bumi juga bersaksi atas kenabianku. Dan tidak seorang nabi pun kecuali ia bersaksi kepadaku.” Lalu dia membaca firman Allah, “…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6)
Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada tahun 1908.Semoga Allah senantiasa menyelamatkan kita dari berbagai fitnah yang dapat menjerumuskan kita ke jurang neraka.


Tentang adanya kasus aliran sesat ini, komentar yang paling saya tunggu adalah komentar Gus Dur, dan komentar Anda tentunya. Semoga Nabi palsu yang bernama Ahmad Mosadeq (saya yakin nama ini juga nama palsu) itu, mendapat ampunan dari Allah SWT sebelum ajal menjemputnya. Amiien.

Sumber Bacaan:
http://209.85.165.104/search?q=cache:9U5tD__4XCoJ:www.ar-risalah.or.id/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D22%26Itemid%3D50+nabi+palsu&hl=id&ct=clnk&cd=9&gl=id

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/26/time/231843/idnews/845529/idkanal/10