Let's we talk about everything, about our small world. Don't be doubtfully to speak and to shout to the world. Tell them that we can be lively its more better than now. Live is a short, but it must be meaningfulls.
Wednesday, January 27, 2010
ANTARA ROY SURYO DAN RUBY ALAMSYAH
Mungkin orang awam seperti saya serta-merta bergumam, ternyata masih ada toh pakar IT selain Roy Suryo (nah lho...). Hebatnya lagi Ruby ini ternyata mengantongi sejumlah sertifikat internasional yang singkatan-singkatannya itu cukup asing. O...ternyata... tidak hanya manusia yang membutuhkan uji forensik, perangkat keras juga membutuhkannya untuk keperluan rekonstruksi. Yang dilakukan Ruby saya banyangkan seperti sebuah reka ulang atau rekonstruksi bagaimana seorang maling pintar membobol ATM. Ini bisa diibaratkan bagaimana seorang maling biasa melakukan rekonstruksi terhadap apa yang diperbuatnya, misalnya maling komputer. Jadi apa yang salah dengan reka ulang? Rasanya tidak ada, kalau ada tutup saja acara-acara TV semacam Buser dan sejenisnya yang sarat dengan liputan investigasi dan rekonstruksi.
Indonesia ternyata menyimpan banyak SDM yang handal, tapi sayangnya mereka nirekspos, mungkin dasarnya mereka low profile, atau media massa kita yang tidak mau susah-susah mencari orang-orang yang kompeten selain yang sudah ada dan sudah berlangganan. Yah... tentunya ini jadi PR bagi para jurnalis ataupun redaktur sebuah media massa termasuk TV, koran , ataupun radio untuk terus menggalinya, tanpa diembel-embeli maunya yang gampang-gampang saja dan asal sudah terkenal. Mungkin.
Ada berita yang patut kita baca nih dari Metro TV:
Roy Suryo VS Ruby Alamsyah
Metro Hari Ini / Umum / Selasa, 26 Januari 2010 18:47 WIB
Metrotvnews.com, Depok: Kasus pembobolan dana nasabah ternyata membuka perseteruan antara pakar informasi teknologi, Roy Suryo dan Ruby Alamsyah, ahli IT perbankan. Ini berawal dari peragaan Ruby soal proses pembobolan dana nasabah melalui anjungan tunai mandiri (ATM). Terkait hal tersebut, Roy sempat mempertanyakan keahlian Ruby dalam bidang forensik IT. Lalu siapakah yang sebenarnya ahli dalam bidang IT?
Ruby Alamsyah adalah alumnus teknologi informasi dari Universitas Gunadarma di Depok, Jawa Barat. Ia meraih master dalam bidang yang sama dari Universitas Indonesia.
Sedangkan, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo adalah sarjana komunikasi di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Roy meraih gelar master dalam bidang perilaku dan promosi kesehatan di kampus yang sama.
Karier keduanya berbeda. Roy saat ini sudah menjadi Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Partai Demokrat. Sebelumnya, Roy adalah pengajar dan pembicara di beberapa universitas serta konsultan internet dan video konferensi di Polda DIY.
Sedangkan, Ruby bergelut dibidang IT dan keamanan sistem selama 11 tahun serta Konsultan Forensik Kepolisian Indonesia dan Asia.
Aktivitas organisasi keduanya pun berbeda. Ruby aktif dalam organisasi internasional untuk investigasi kriminalitas dengan teknologi tinggi (HTCIA). Sedangkan, Roy aktif dalam Organisasi Masyarakat Telematika Indonesia dan Komunitas Fotografi.(*)
Monday, January 04, 2010
SIBUK MELIHAT YANG TERLALU BESAR DAN TERLALU JAUH.
Pagi ini begitu cerah. Aku duduk berteman kepulan asap rokok putih. Mataku tertuju pada pucuk daun pohon liar yang tumbuh di belakang kantor tempatku bekerja. Ada kupu-kupu coklat lurik-lurik putih bulat yang hinggap di pucuk daun yang segar menghijau. Dia hinggap disitu, kurang lebih sudah lima menit, sambil sesekali mengepak-ngepakkan sayapnya dengan pelan. Aku amati terus, dan mataku kini menggeser sedikit ke arah tembok pembatas yang letaknya tidak jauh dari sang kupu-kupu. Ada semut rangrang yang bergerak satu arah, beriringan, seolah konvoi panjang yang berjalan tertib, aman, dan terkendali.
Serta-merta aku mendongak ke atas, ada seekor tawon kecil yang terbang berputar-putar seolah mencari sesuatu yang hilang atau mungkin hanya sekedar sedang bermain-main. Cukup lama aku mengamati ketiga makhluk yang semula luput dari perhatianku. Toh semuanya hanyalah hewan-hewan kecil, semuanya punya kehidupan sendiri-sendiri. Tapi, entahlah kenapa saat ini aku begitu memperhatikan mereka.
Tiba-tiba mata batinku seolah membuka, bahwa ada hal-hal kecil yang seringkali kita tidak memperhatikannya. Kita mungkin seringkali disibukkan dengan hal-hal yang besar dan terlampau jauh. Padahal hal-hal kecil ini, jika diperhatikan dan dinikmati dengan seksama, tampak begitu indah, hijau, dan unik.
Kadang dengan mempunyai dua mata kita yang masih sehat inipun, seringkali kita tidak mensyukurinya. Mungkin karena sehari-hari disibukkan dengan menonton berita dan hiburan di TV, sibuk dengan buku-buku bacaan yang berat, dan sibuk dengan melihat hitung-hitungan angka yang membuat kerja otot-otot mata jadi sangat ekstra, dan akhirnya lelah.
Wajar kiranya jika dalam sebuah kesempatan, Gus Mus, kyai kharismatik teman baik Gus Dur (alm), membacakan puisi yang hanya terdiri dari empat kata, ”Tuhan, kami sangat sibuk”. Sebuah kalimat sederhana yang menyadarkan betapa kita seringkali melihat yang terlalu besar dan terlalu jauh. Pun dengan mata kita yang masih sehat ini. Mari mensyukurinya dengan sesekali menikmati gerakan-gerakan makhluk kecil yang ada di sekitar kita.
Thursday, August 06, 2009
Jadi Orang Biasa Siapa Takut
kelompok yang besar. dimana ada aku didalamnya. Kalau kamu termasuk
orang yang biasa2 saja, kamu ada di partai terbesar dari segala partai
di
negara ini. Pede aja, gak usah takut memandang masa depan. Apa sih
yang kamu risaukan?
Ssstt.. pabrik risau sudah bangkrut. Sudahlah.. maju saja, jalani
hari-hari dengan penuh kebiasaanmu. Jangan mudah terpengaruh dengan
apapun di sekitarmu. Kecuali mereka juga orang biasa sepertimu, maka
bergabunglah. dan kamu akan happy, tersenyum, tertawa, terbahak
sejadi-jadinya.
Yakin saja, orang biasa lebih bahagia dari dugaan sebagian besar orang
biasa. Orang biasa jauh lebih merasakan nikmatnya hidup di dunia ini.
Maka bergembiralah,karena kita tidak takut salah, tidak takut terlihat
tak sempurna, tidak takut terlihat kusut, terlihat rapi, atau terlihat
tampil biasa-biasa saja. Tidak takut dikuntit wartawan atau paparazzi.
Orang biasa bisa berprofesi apa saja, jadi guru... guru yang biasa
saja, jadi karyawan yang biasa saja, bahkan jadi senimanpun yang biasa
saja.
Ketika kamu menjadi orang yang biasa saja, sungguh ini adalah modal
untuk nikmatnya hidup menikmati privasi di dunia yang hanya sebentar
ini. Orang biasa dan orang yang tidak biasa, sama saja, mati tidak
bawa apa-apa. Kalaupun bawa apa-apa, tidak ada artinya wong tubuh ini nantinya kembali ke bumi. Biasa aja lagi... karena dunia ini dipenuh-sesaki dengan orang-orang biasa.
Saturday, January 31, 2009

Agak cooling down juga setelah melihat perkembangan di Gaza yang digempur 22 hari secara brutal oleh militer Israel biadab yang membunuh wanita dan anak-anak Israel. Semoga usaha Spanyol dan negara-negara lain yang konsisten untuk membawa Olmert, Peres, Bush, Condoleeza, Livni, Leibovich, dan petinggi-petinggi militernya ke mahkamah Internasional untuk menghukum mereka sebagai penjahat perang (the war criminals and the true terosists), dapat segera terwujud. Selebihnya untuk mengetahui perkembangan Gaza dan Palestina pada umumnya silakan klik disini atau kesini.
Tahun 2009 ini hendaknya disadari dengan sikap lebih percaya diri dan mencintai produk dalam negri. Biarlah dunia khususnya AS dan Eropa sedang goncang oleh krisis finan-sial global, tapi kita orang Indonesia harus tetap optimis. Toh, hanya sebagian kecil saja sektor yang terkena dampaknya (manufaktur dan furniture).
Saya bukan ekonom yang setiap hari memperhatikan njelimetnya urusan uang, devisa, laju inflasi, bursa efek, dan sejenisnya. Maka dari itu, saya cuma mau mengatakan yang simple-simple saja. Misalnya, cobalah mulai selektif dengan apa yang kita makan, lebih amannya carilah tempat makan yang sehat (misalnya warung makan ikan segar dengan variasi sayurannya). Hindari makanan cepat saji yang hanya akan mengundang penyakit hinggap di tubuh Anda. Sekali lagi carilah warung-warung yang nyata sehatnya. Dengan selektif seperti ini, berarti Anda sudah menggerakan perekonomian anak bangsa. Tidak usahlah kita berbelanja produk-produk atau pergi ke tempat-tempat yang nyata-nyata keuntungan dari bisnis mereka digunakan untuk mempersenjatai Israel yang pada akhirnya akan membantai anak-anak tak berdosa dan para wanita Palestina. Kalimat sederhananya seperti iklan boss Maspion, "cintailah prlodzuk-produks dalam negri".
Mungkin apa yang dilakukan pengusaha Iran bisa kita ditiru. Dia membuat produk minuman bernama Zam zam Cola, dan di jazirah Arab laku keras bo! Nah satu saat kita bisa bikin MasDoel's untuk menyaingi McDonald's, Malioboro untuk mendongkel Marlboro, Kola kola untuk menggeser Coca Cola (sudah beredar), atau Shol untuk melenyapkan Shell. Dengan jalan seperti ini, tentu akan menggairahkan sektor riil kita.
Bolehlah saya mengcopy-paste kalimat blogger lain yang bunyinya,"Jika kita tak mampu berdampingan dengan saudara kita di Lebanon dan Palestina untuk memerangi Israel, mari dukung mereka dengan dana, dan goyang perekonomian musuh-musuh mereka." Nah ini dia produk yang harus kita hindari, atau dengan kalimat yang lebih lugas, "jangan beli!". Mau tahu produk apa saja? Klik disini.
Bekerjalah secara profesional dan bekerja keras sesuai dengan bidangnya masing-masing. Yang jago bikin web, cobalah mulai berfikir untuk tidak melulu jadi follower, buatlah web yang dapat menjadi tandingan facebook, friendster, atau yahoo. Yang jago pertanian cobalah cari varietas-varietas unggul kualitas ekspor. Yang jago otomotif coba deh bikin kendaraan roda empat murah untuk rakyat Indonesia, dan seterusnya dan seterusnya. Ayo Indonesia jangan tidur terlalu lama!
Monday, January 12, 2009
Mengirim Surat untuk George W Bush
Masih terkait dengan agresi Israel ke Palestina. Mungkin Anda juga termasuk orang yang mengikuti terus perkembangannya. Sungguh sangat menyesakkan bagaimana mereka dikurung (diblokade), untuk kemudian dihajar habis-habisan secara brutal tanpa rasa belas kasihan oleh tentara-tentara Israel Laknatullah. Tanganku terkepal, mataku berkaca-kaca, tapi hanya itulah yang aku bisa. Marah, jengkel, kecewa, ikut merasakan penderitaan warga Gaza di sana.
Terlebih lagi membayangkan ibu-ibu yang kesana-kemari berlari bersama anak-anak mereka. Setibanya mereka di tempat yang dirasa aman, ternyata bom malah mengenai mereka. Ada kisah yang sangat memilukan, seorang ibu yang telah terkapar mati syahid, dikerubuti empat anaknya sambil menangisi jasad sang ibu yang sudah membujur kaku.
Entah bagaimana kisah keempat anak ini selanjutnya, mungkin mereka juga telah menyusul sang ibu yang sangat mereka cintai itu, atau mungkin selamat dengan trauma yang mendalam terhadap perang dan kehilangan ibunda tercinta untuk selamanya.
Keji!!! Biadab!!! laknat!!! terkutuklah wahai kau yahudi!!!
Cemoohan dan protes manusia dari seluruh penjuru dunia tidak kau perhatikan, PBB (yang memang tidak berguna itu) tidak kau dengarkan.
Sekali lagi hanya itu yang bisa kita lakukan. Mungkinkah dengan do'a dan bantuan ke posko-posko Palestina dapat meringankan beban warga Gaza yang tertindas? Wallahua'lam, hanya Allah yang dapat menjawabnya. Coba saja doa setiap habis sholat, atau setelah sholat malam. Mudah-mudahan Allah segera menurunkan bantuan untuk Gaza dengan "cara-Nya" yang tidak kita pahami atau tidak terlihat.
Ada satu lagi cara untuk mengajukan protes terhadap zionis Israel, silakan Anda surati Presiden AS yang terhinakan di dunia ini (mana ada presiden koq dilempar sepatu). Anda kirim saja email ke comments@whitehouse.gov
Seperti saya yang sudah melakukannya, berikut isi email saya, semoga dibaca si Bush-uk yang jelas-jelas bersama kabinetnya, termasuk Menlu Condoleeza Rice yang tampak sekali wajah iblisnya ketika menyatakan abstain dalam sidang PBB yang memutuskan resolusi untuk Israel-Palestina. Silakan kirim mumpung dia belum lengser.
to mr. George W. Bush
It's about Gaza children. they scream," help us. why we become the victims? B
Before death, they keep crying sick. they call, "mama ... sick mama ..."
listen to them! see them!
Think ... if they are your children.
You are very unreasonable. You are very uneducated. You are war criminals. Look at Palestinian residents. Their pain, they cry, they fear. You have made them great pain. How much money you receive from Israel?
Are you a democratic? Look, over 300 Palestinian children died. They were in pain. They bomb in the army by israel. They shoot at. They were in the shoot many times with white phosphorus guns. You have a heart, but not used. you have ears, but you deaf. you have eyes but you blind.
israel and you've created a Holocaust in Gaza. you are truly cursed!
I weep for this crime,
Olish Katja,
Indonesia
Tuesday, January 06, 2009
AKU MENANGIS UNTUK ANAK-ANAK PALESTINA
Sekarang aku sedang berbicara kepada orang-orang hebat ini:
Wahai tentara Israel
Wahai George W. Bush
Wahai Obama
Wahai Ehud Olmert
Wahai Ban Ki Moon
Wahai lobby Yahudi di parlemen AS
Wahai orang-orang biadab!
Wahai orang-orang pemuja demokrasi dan HAM!
Wahai para pembuat peluru
Wahai para pembuat rudal
Wahai para pembuat tank dan pesawat canggih
Wahai para pembuat mesin pembunuh peradaban manusia
Wahai untuk seribu wahai!!!
Sungguh kalian sudah melihat dengan jelas dengan mata kepala sendiri
Begitu bengisnya tentara Israel dibawah komando Olmert sang penjahat perang
Menumpahkan darah perempuan dan anak-anak Palestina tak berdosa
Bayangkan jika mereka adalah anak-anakmu!
Bayangkan jika mereka istrimu atau saudaramu!
Tapi sayang… kalian berpura-pura tidak melihat ketakutan mereka
Berpura-pura tidak mendengar jeritan mereka
Pagi ini aku melihat headline sebuah surat kabar
Yang menampilkan foto seorang ayah yang menangis-meronta
Di hadapan tiga balitanya yang tergeletak kaku
Dengan pakaian berhias darah kering
Wajah-wajah ketiganya begitu polos, bersih, dan menyisakan pertanyaan
“Kenapa kami yang ditembaki?”
“Apakah kami ini jahat?”
“Ada apa dengan tentara-tentara Israel itu?”
“Apakah mereka menganggap kami ini binatang yang berbahaya tak berguna?”
“Ayah… ibu… yang tabah ya, jangan tangisi kepergian kami”
“Mungkin di surga kami bisa menemukan jawabannya”
“Biarkan kami bertanya pada Tuhan”
“Selamat tinggal abi… selamat tinggal umi… kami menunggu kalian di surga”
"Ya Allah yang maha kuasa dan maha melihat, kami memohon pada-Mu... hentikanlah kebiadaban Israel dengan cara Engkau, Amiienn"
Wednesday, September 03, 2008
JIHAD SEORANG SUAMI

Pagi tadi saya ditelpon sama ibu, setelah ngobrol berbagai macam topik pembicaraan, sampailah pada berita mengejutkan itu. beginilah kutipannya:
Ibu : “O iya A… tetangga kita Mang Karya meninggal”. (Mang Karya =
Aku : “Innalillaahi wainna ilaihi roji’un”
Ibu : “Mamah juga gak nyangka, dia kan masih muda”
Aku : “Gimana kejadiannya?”
Ibu : “Katanya lagi nyari motor ke daerah Kadipaten.”
(kerjaan almarhum calo motor)
Aku : “Terus…?”
Ibu: : “Tabrakan beruntun!”
Aku : “ Sedang jihad tuh Mang Karya.”
Ibu : “ Iya semoga dia syahid.”
Aku : “Amieen amiieen… keluarganya gimana Mah?”
Ibu : “Ya pertama denger sih nangis terus, istrinya sama tiga anaknya. Si sulung mah sampai histeris.
Aku : “O iya kejadiannya kapan itu?”
Ibu : “Baru kemarin ini, sore hari, pas puasa hari pertama.”
Aku : “Masya Allah… ya ya…” (aku tercekat)
“Anaknya yang gede tuh umur berapa sih Mah?”
Ibu : “Baru mau masuk SMP, adik-adiknya masih kecil-kecil. Yang gede tuh pinter, sekolahnya ranking sat uterus, yang kecil gendut lagi lucu-lucunya… kasihan A”
Aku : “Iya sih Mah… ya titip pesan aja buat keluarganya, yang tabah, yang sabar.”
Ibu : “Iya A… “
Obrolan lewat telpon pagi tadi begitu membuatku miris. Di satu sisi, membayangkan betapa sedihnya keluarga yang ditinggalkan, di sisi lain ada sedikit kelegaan membayangkan almarhum yang meninggal di saat mencari nafkah untuk anak dan istrinya sambil berpuasa .
Lagi-lagi aku sebagai manusia biasa hanya bisa berucap, semoga… semoga… dan semoga. Selamat jalan Mang, semoga engkau masuk golongan mujahid. Amieen.
Friday, July 25, 2008
Fenomena Lagu Gaby

Mumpung belum terlalu telat, sebagai orang yang sehari-hari bergelut dengan musik, saya juga mau ikutan komentar. Ada beberapa kemungkinan tentang "wabah" lagu ini:
- 1. di-upload di internet secara sengaja oleh si penciptanya
- 2. di-upload di internet secara sengaja oleh orang yang bukan penciptanya (bisa teman si pencipta lagu atau orang yang ngerekam lagu dengan niat menyebarkannya lewat internet). Prosesnya dapat dilakukan dengan seizin atau tanpa seizin si pencipta.
Sementara itu, tentang banyaknya yang mengaku sebagai pencipta lagu (yang sebenarnya secara musikalitas lagu tsb sangat biasa sekali), inilah beberapa kemungkinannya:
1. Orang/band itu jujur dan memang dialah penciptanya
2. Orang/band itu tidak jujur alias bohong alias penuh dusta.
It's enough! ya... cuma dua kemungkinannya... itu saja.
Lalu apa untungnya ngaku-ngaku lagu yang bukan ciptaannya dengan melakukan kebohongan publik? Ya tentu saja alasannya sangat mudah ditebak, yaitu:
1. Ingin terkenal
2. Ingin populer
3. Ingin tenar
4. Ingin masuk di tipi
5. Ingin dapat uang
6. Ingin kaya
7. Ingin beli rumah
8. Ingin beli mobil
9. Ingin punya pacar
10. Ingin-ingin empukkkk hehehe
Nah... kalau soal bagaimana prosesnya hingga ada yang ngaku2 lagu tersebut adalah ciptaannya (kita sebut saja si pembohong), berikut adalah beberapa kemungkinannya:
1. Si pembohong melihat dan mendengar langsung ketika si pencipta menyanyikan lagu tersebut, kemudian merekamnya dalam ingatan/tape recorder/hp dngn fasilitas recording. Suatu hari dia mengklaim lagu itu sebagai ciptaannya.
2. Si pembohong melihat dan mendengar lewat internet, dia suka, kemudian dia genjrang-genjreng gitar di rumah dan mengklaim lagu itu sebagai ciptaannya.
3. Si pembohong nemu cd, kaset, atau flashdisk di suatu tempat misalnya tempat sampah, ternyata setelah didengerin berisi lagu Gaby 'Tinggal Kenangan'. Kemudian dia mengaku itu lagu ciptaannya.
Sikap saya sebagai orang musik:
1. Mengutuk keras para pembohong seperti emaknya si Malin Kundang
2. Mengajak para musisi untuk merasa malu dengan fenomena ini (malu koq ngajak-ngajak sih...)
Solusi:
Ingat loh...
sekali bohong akan diikuti dengan bohong-bohong lainnya... Maka dari itu, dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya harus segera diadakan Sumpah Pocong, biar yang boong langsung jadi pocong hihihihi....
Monday, July 21, 2008
Hati yang Bersih

Teman-teman, saya baru pulang dari pertapaan. Ketika sedang asyik menjelajah sisi-sisi batiniah dan ruhiyah saya yang hampir keropos tergerogoti arus globalisasi, saya mendapati kesejukan air zamzam dan tetesan embun surgawi dari tulisan Ust. Arifin Ilham. Thank's buat temen2 di Grup FS My Islam khususon Om Malik a.k.a Om Maligh & Uni_Na_untum yang sudah posting copas pemikirannya Ust. Arifin di bawah ini:
Hati yang bersih adalah hati yang akan membawa kebahagiaan, kesuksesan, kemenangan, kedamaian, dunia akhirat. Sungguh sukses beruntunglah hamba Allah yang suci hatinya. Hati yang suci akan mudah mengakses, menerima, hidayah - petunjuk Allah, rahmat - kasih sayang Allah, maghfirah - ampunan Allah, inayah - pertolongan Allah, dan berkah demi berkah.Yang kedua, hati yang bersih, do’a pun menjadi mustijabah. Karena tidak ada hijab, tidak ada yang menghalangi dia dekat dengan Allah, karena bersih hatinya, bening.
Kemudian yang ketiga, hati yang bersih, subhanallah, kalau ia bicara, bicaranya pun menjadi hikmah. Qoulan tsakila, kata-kata yang berbobot.. Dan kalau hamba Allah yang hatinya bersih itu bicara, orang akan mendengar, orang akan menyimak, dan mudah mendapatkan hikmah, al ilmu dari mereka yang hatinya bersih.
Hati yang bersih, subhanallah, bersemainya sifat-sifat yang mulia. Ikhlash, sabar, syukur, qona’ah, tawadhu, tawakal, dan sebagainya, subur sekali sifat-sifat mulia tumbuh bersemai di hatinya. Kemudian hati yang bersih mudah meraih kekhusyu’an, mudah menerima ilham, intuisi-intuisi kebaikan dan perbaikan.
Hati yang bersih, subhanallah, akan mendapat kedudukan yang mulia, maqoomammahmuudah. Hati yang bersih, subhanallah, pusat perhatian para malaikat. Seperti bintang di tengah malam, menyala-nyala, mengundang perhatian para malaikat. Sehingga malaikat mendekatinya dan terus memujinya dan mendoakannya, agar ia terus dalam kebersihan, dalam kesucian di hadapan Allah.
Kemudian hati yang bersih, subhanallah, akan membuat hati itu bercahaya. Hati yang bercahaya akan menerangi pikirannya, bicaranya, penglihatannya, pendengarannya, tubuhnya bercahaya. Hai akhlak yang mulia. Kemudian ia bercahaya, maka siapapun yang mendekati dirinya akan merasakan berkah dari cahaya yang ada pada dirinya. Jangankan dia, orang mendekat dia pun akan merasakan keberkahan-Nya.
Kalau suami hatinya bersih, istrinya pun mendapatkan keberkahan. Kalau istri hatinya bersih insya Allah suami pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau orang tua bersih hatinya insya Allah anak-anaknya pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau pemimpin hatinya bersih insya Allah rakyat pun mendapatkan keberkahan dari kebersihan hatinya.
Hati yang bersih, firasatnya sangat tajam. Hati yang bersih, syaithon tidak dapat menguasainya, silau mata syaithon melihat hati hamba Allah yang bersih, karena memancar cahaya.
Karena itu kita mohon kepada Allah agar hati kita dibersihkan oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosa yang mengotori hati kita, diperbaiki akhlaq buruk yang menjadi hijab di hati kita. Sehingga dengan hati yang bersih kita mendapatkan keberkahan demi keberkahan.
By Ustadz Arifin Ilham
Friday, June 06, 2008
Yang Tercecer dari Dialog Publik Amien Rais dan Cak Nun
Ada banyak persoalan di negeri ini. Ada banyak potensi di negeri ini. Ada banyak permata di negeri ini. Ada banyak sumber daya alam di negeri ini. Ada banyak seniman yang dapat membuat orang-orang bule melongo melihat orang Indonesia bisa ngeblues, ngejazz, nge-country, nge-gamelan, ngereggae, ngerock, ngesoul, ngegambus Arabian, ngindia, ngarawitan, ngedangdut apalagi, atau nggedebak-nggedebuk, atau ngesenian lainnya. Semuanya pasti bisa dilakukan orang Indonesia. Meminjam istilah Cak Nun, ada banyak cerita di negeri ini, dari kisah rajawali yang terkurung pada Babad Tanah Jawa lengkap dengan cerita mental inlander dan kompradornya Amangkurat I sampai cerita Puntodewo, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk Cangik sampai Butho versi masa kini.
Tapi, mental-mental komprador atau pelayan dan inlander masih berkeliaran memegang tampuk kekuasaan. Sampai kapan? Entahlah. Inilah sekelumit cerita yang diambil dari Dialog Publik di Gedung MM UGM yang berlangsung hari Kamis, 5 Juni 2008 kemarin. Sengaja saya sampaikan di sini, karena ini penting. Ini adalah PR anak bangsa yang peduli akan nasib bangsa ini di kemudian hari.
Dalam acara yang dihadiri sejumlah tokoh ini terungkap betapa negara kita ini sekarang sudah terjajah. Sejarah memang selalu berusaha mencari celah untuk bisa terulang. Kalau sejarahnya manis sih oke-oke saja, tapi kalau sejarahnya pahit ya nanti dulu. Bangsa ini dulu kenyang dengan pil lahit imperialisme dari zaman Portugis, Inggris, Belanda sampai si saudara tua Jepang. Sudah lama bangsa ini dikadalin VOC dan antek-anteknya. Yang terjadi sekarang bukannya hilang, tapi sebaliknya kita dijajah lagi lewat globalisasi ekonomi yang memang gombalisasi itu! Aset-aset negara sudah banyak yang terjual ke tangan asing. Istilah terbaru muncul korporatokrasi, begitu kata Pak Amien sebagai penulis buku Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia! Malahan dalam waktu dekat, sebanyak 42 BUMN siap dijual ke tangan asing. Ini ditegaskan pula oleh pembicara lain, Dr. Drajad Wibowo, ekonom yang menjadi anggota DPR itu. Sementara Prof. Mochtar Mas’oed hadir sebagai pembedah yang jitu memaparkan bahwa buku Amien Rais itu merupakan buku yang punya tujuan seperti roman bertendens agar para pembacanya bertindak. Pak Amien pun mengakui, dia ingin setiap anak bangsa yang membaca bukunya (kabarnya sekarang sudah terjual 40.000 eks), akan marah melihat fakta-fakta yang ada didalamnya.
Pertanyaannya adalah kenapa musti marah? Ya, harus marah, karena faktanya sungguh hebat luar biasa. Sejak zaman Megawati sampai SBY berapa banyak BUMN yang terjual ke tangan asing. Singapura dengan Temasek-nya berhasil menguasai Indosat. Konsekuensinya, mereka bebas melakukan perang-perangan dengan peluru tajam di beberapa wilayah Indonesia khususnya Pulau Sumatera. Kabarnya, merekapun jadi bisa mengendalikan Satelit Palapa. Akibatnya apa? Ketika terjadi huru-hara di negeri ini, bisa saja jalur komunikasi antar Kodim, Korem, dan satuan militer lainnya terputus. Sungguh hebatkan? Begitu kurang lebih yang diungkapkan Amien Rais. Kalau ke-42 BUMN itu benar-benar lepas ke tangan asing karena sikap-sikap market friendly pemerintah, maka lengkaplah sudah bangsa ini menjadi bangsa yang tidak punya kedaulatan ekonomi. Selamanya kita hanya menjadi budak asing!
Bagaimana dengan Cak Nun? Kyai Mbeling ini langsung menantang Pak Amien, katanya, “Sudah saatnya Pak Amien, ini mendesak, saya melihat yang bisa hanya Amien Rais, ingat hidup adalah perbuatan!” Katanya seraya menyindir Ketua Pan Soetrisno Bachir yang akhir-akhir ini gencar beriklan dengan slogan yang tidak spektakuler itu. Ketika ditantang termasuk oleh beberapa penanya Pak Amien pertama kali hanya menjawab, “Masih banyak yang lebih muda, saya ini kan sudah hampir sunset.” Jawaban seperti ini cukup membuat orang yang pertama tidak mendukung Amien Rais untuk maju capres menjadi terperangah. Bagaimana tidak, seorang Amien Rais yang dulu terlihat begitu ambisius (mungkin karena tim suksesnya juga yang kurang smart melihat dan mengkaji budaya orang Indonesia yang tidak suka dengan orang-orang yang tampak terlalu ambisius), secara spontan terlihat begitu menolak secara halus. Tapi, dalam hati kecil saya, sikap inilah seharusnya yang lebih ditonjolkan dalam kampanye dulu-dulu ketika Pak Amien maju capres.
Kalau memang ada pemimpin yang komitmen untuk bersikap tegas pada IMF, World Bank dan kroni-kroninya, kenapa tidak? Buktinya sudah banyak, lihatlah Russia, Bolivia, Argentina, India, dan raksasa ekonomi Asia saat ini, China! Mereka bisa tegas terhadap korporatokrasi asing. Mereka cukup percaya diri untuk tidak menjadi inlander. Mereka cukup percaya diri untuk melakukan negosiasi ulang dengan kekuatan asing sang pengeruk kekayaan negeri sendiri. Persoalannya, sudah pede dan beranikah pemimpin kita saat ini? Kalau belum, berarti memang harus segera turun mesin! (Lagi-lagi meminjam istilah Pak Amien dalam dialog siang itu).
Dalam acara yang berlangsung hampir lima jam itu, sepertinya memang memacu semangat kebangsaan untuk menjaga aset-aset bangsa ini agar tidak lepas terus ke tangan asing. Misalnya, agar hasil Freeport juga dapat dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Agar kita dapat mengelola Sumber Daya Alam yang ada benar-benar dari ibu pertiwi, dikelola oleh rakyat, dan hasilnya juga untuk rakyat.
Setelah acara selesai, saya sempat menegur Pak Amien yang asyik dimintai tanda tangan untuk buku-buku yang sudah dibeli para peserta dialog. “Semoga jadi presiden Pak!” Sambil masuk mobil Pak Amien sigap menjawab, “ Amin… amin.”
Wednesday, June 04, 2008
Wanted: Public Enemy

Agaknya inilah yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta. Kadang kita tidak sadar, hampir setiap hari kita selalu mencari public enemy atau musuh bersama. Nampaknya mungkin benar, di negeri kepulauan ini ada pihak-pihak yang tidak suka dengan kedamaian. Mungkin hampir sama pemikirannya dengan negara-negara pembuat senjata. Mereka akan terus mengupayakan adanya perang di muka bumi ini. Kenapa bisa begini? Karena dengan adanya perang mereka dapat terus memproduksi senjata. Kalau tidak ada perang, industri-industri senjata milik mereka akan bangkrut, dollar juga tidak akan mengalir.
Kalau pihak luar tidak suka adanya kedamaian di Indonesia, memang masih masuk akal. Tapi, kalau elemen bangsa ini sendiri yang tidak suka bagaimana? Tentunya aneh bin ajaib. Apa kepentingan mereka hingga tega-teganya menginginkan negara ini bergolak? Apa mereka didanai asing yang ingin di negara ini terjadi perang saudara? Mungkin mereka tidak puas dengan kerusuhan Poso, atau damainya Aceh sekarang ini? Mereka mau antara umat Islam sendiri pecah! Ahmadiyah diadu dengan seluruh umat Islam, FPI diadu dengan Banser NU, Gus Dur diadu dengan Habib Rizieq, Islam konservatif diadu dengan Islam modern, NU diadu dengan Muhammadiyah, MUI diadu dengan JIL. Sungguh terbayang apa jadinya nanti jika semua elemen Islam di negara ini pecah. Apa kita mau jadi seperti Irak, dimana ketika Sunni dan Syiah tidak pernah akur, kemudian Amerika masuk dan hancurlah negara itu.
Seandainya dalam insiden monas itu saya punya helikopter sepuluh buah saja, saya akan tugaskan semua pilotnya untuk terbang rendah di atas monas dan berteriak lantang dengan pengeras suara yang super keras, “Hei kalian semua, sadarlah kalian itu sama-sama orang Islam! Sadar gak siiiiihhhh????!!!, Please deh, jangan bego-bego amat dooong… Ada yang seneng lho kalau kalian perang kayak gini terus... ”
Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari insiden monas? FPI mau dibubarkan, Anda senang? Urusan BBM dan BLT terlupakan, pemerintah jadi sedikit lega karena perhatian publik jadi teralihkan ? Atau kita semua termasuk Anda jadi sadar, bahwa ada konspirasi yang sangat rapi dibalik semua ini? Untuk kemungkinan yang terakhir ini, Anda dapat membaca link ini, silakan klik http://www.jalansetapak08.wordpress.com
Coba pikir dengan hati, ini fakta, ini Indonesia, dan kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia!
Friday, May 16, 2008
Setiap Ganti Presiden BBM Naik

Judul di atas sebenarnya sudah berupa kesimpulan. Faktalah yang berbicara, siapapun orangnya yang memimpin negeri ini sepertinya tidak akan kuat untuk tidak ikut-ikutan menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM sudah menjadi hal biasa, jadi kenapa harus terlalu dipermasalahkan atau dipusingkan?
Apa benar orang-orang yang demo itu benar-benar sedih dengan naiknya BBM? Atau mereka hanya terprovokasi saja? Tapi, kalau dilihat sepintas sih memang jelas mereka kecewa dengan keputusan pemerintah SBY-JK, sampai-sampai jerigen (tempat minyak tanah) mereka buat seperti bola sepak, ditendang sana, tendang sini, oper sana, oper sini, kadang-kadang juga di smash atau dibanting-banting. Ibu-ibu tampak beringas pada barang yang biasa disayanginya.
Sungguh bentuk sindiran yang telak! Bagaimana ibu-ibu rumah tangga dengan pakaian khasnya (daster) bermain bola "jerigen" yang biasanya mereka gunakan untuk tempat menyimpan minyak tanah. Terlalu berlebihan? Tidak sih, justru mereka terlihat ekspresif walaupun kadang sambil tersenyum atau tertawa bersama.
Kenaikan BBM yang rencananya akan diberlakukan akhir Mei ini memang ditanggapi beragam oleh masyarakat. Ada yang biasa saja, ada yang sangat pasrah, ada yang sangat cemas, ada yang stress, ada yang marah-marah, bahkan ada juga yang turun ke jalan mereka berdemo menuntut SBY-JK atau menteri Purnomo Yusgiantoro untuk turun. Apa ini perlu? Dalam konteks sebuah negara demokrasi kejadian-kejadian demonstrasi nampaknya sudah menjadi satu keharusan. Demo itu harus ada di negara yang mengaku demokratis. Demikian halnya juga dengan Indonesia. Ada semacam analogi sederhana; Indonesia adalah negara demokrasi, di negara demokrasi, demonstrasi sudah menjadi hal biasa. Kesimpulannya, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, demonstrasi sudah biasa terjadi. Maka tidak heran kalau Wapres Jusuf Kalla mengatakan tidak takut dengan ancaman dan gelombang demonstrasi yang lebih besar untuk menolak rencana kenaikan BBM (Kompas, Jumat 16 Mei 2008). Wajar saja kalau beliau tidak takut, karena beliau sadar betul negara Indonesia ini adalah negara demokratis. Justru kalau tidak ada demonstrasi, negara ini bisa-bisa dicap sebagai negara yang dipimpin oleh penguasa otoriter.
Hidup di Indonesia harus membiasakan diri dengan naiknya BBM. Buat Anda yang bergaji besar dan hidup di atas garis kekayaan mau naiknya seberapa besarpun pasti tidak jadi soal. Akan tetapi, lain halnya bagi rakyat lainnya yang jumlahnya jauh lebih besar. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan atau mungkin di dasar jurang kemiskinan tentunya akan menjerit, karena jelas hal ini akan semakin membuat mereka hidup miris dan terjepit di negara yang sebenarnya kaya raya ini.
Syekh Salthut ketika berkunjung ke Indonesia sangat kagum dengan keindahan dan kesuburan alam Indonesia, sehingga sang syekh menyebut negeri ini adalah potongan surga. Sekarang potongan surga ini sudah menjelma menjadi potongan surga yang salah urus. Hutan-hutan dibabat, pohon-pohon ditebas, alam tidak lagi dijadikan sahabat, sebaliknya terus disakiti. Jangan heran kalau satu saat alam juga yang marah, sekarangpun sudah banyak terjadi. Sebenarnya marahnya hanya pada satu dua orang saja, tapi imbasnya bisa dirasakan banyak orang.
Bagaimanapun juga, ke depan jalan masih panjang, harapan harus selalu tetap ada. Ingat, putus asa adalah dosa. Walaupun setiap ganti presiden BBM selalu saja naik, kita harus tetap berusaha, berdoa, dan tawakkal kepada-Nya. Tantangannya adalah, bisakah negara ini suatu saat nanti menghentikan tradisi BBM naik setiap ganti presiden? Mungkin saja bisa dengan syarat presidennya harus benar-benar sakti mandarguna dalam arti benar-benar ahli mengerahkan potensi SDM dan SDA, jangan sampai bisa tapi hasil utang sehingga nantinya rakyat juga yang susah, atau minimal malu karena punya negara yang utangnya banyak seperti zaman orde baru.
Wednesday, April 16, 2008
KETIKA CINTA KEMBALI KE KHITOH

Hari ini saya menulis tentang cinta, karena beberapa fenomena percintaan yang terjadi belakangan ini. Yang paling menarik bagi saya antara lain; fenomena boomingnya Ayat-ayat Cinta, dan yang paling aktual adalah pernikahan ketua MPR Ustadz Hidayat Nur Wahid. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu kisah seorang teman yang tinggal di Istanbul Turki yang hari-harinya sedang dihujani dengan butiran-butiran merah muda bercahayakan cinta untuk seorang gadis teman kuliah (namanya sengaja saya tidak sebutkan demi privasinya, terlebih lagi dia begitu pemalu).
Dari ketiga fenomena percintaan yang saya ungkapkan di atas, terlihat adanya kesamaan; cinta diletakkan pada posisi sejatinya; begitu agung, suci, dan indah. Tidak ada proses pacaran yang terlalu lama, tidak ada sentuhan fisik, tidak ada pemaksaan kehendak, tidak ada amarah yang meledak-ledak, dan tidak ada kata cinta terucap. Yang ada hanyalah pergulatan batin sang tokoh, keinginan untuk menyempurnakan agama dan diri di hadapan Allah, dan hasrat untuk memiliki dengan tetap bersandar pada ridho dan kebesaran cinta-Nya. Sungguh indah tak terkira dan tak terlukiskan.
Pernah satu saat saya mendengar seorang teman berbicara seperti ini, “cinta sejati itu tidak ada!” Cinta sejati yang dimaksud adalah cinta antara dua manusia yang dimabuk asmara. Karena pada suatu saat, sangat mungkin dan pasti terjadi, cinta itu meluntur, memudar, kalau tidak padam sama sekali setelah melalui pertengkaran yang hebat, atau terpisahkan oleh ajal yang menjemput. Adapun cinta sejati seperti yang ada pada lirik-lirik lagu pop itu sebenarnya hanyalah demi kepentingan inustri dan budaya pop semata. Saya sangat setuju dengan pendapat teman saya yang musisi gitar lulusan ISI itu, bagaimanapun juga cinta sejati tidaklah bergaris horizontal, melainkan vertikal lurus dari jiwa-jiwa yang tenang penghuni bumi menuju Arasy ke hadlirat Allah SWT.
Saya di sini berpendapat momentum percintaan seperti tiga kisah cinta di atas, dapat membuka jalan yang sangat luas, lapang dan terang menuju kesejatian cinta bertahta. Memang benar kiranya, untuk membendung segala tipu daya gemerlap duniawi yang datang tak kunjung henti dan datang dengan genderang perang, semestinya disikapi dengan mengembalikan makna cinta yang sesungguhnya. Ini dapat terwujud ketika orang tua mengajari cinta Ilahi sejak dini, memagari anak dengan budi pekerti yang luhur dan norma-norma yang menjunjung tinggi kesalehan individu dan sosial. Sudah saatnya cinta kembali ke khitohnya yang suci, agung, dan indah.
Ketika hal ini sudah terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia keluar dari urutan negara paling korup sedunia, akan makin sedikit kasus-kasus aborsi illegal buah pahit dari kecelakaan dan salahnya manajemen syahwat, makin sedikit pula kasus-kasus ibu yang tega membuang bayinya sendiri (naudzubillah!!!). Semoga makin bersih dan berjayalah pula negara ini nantinya. Semoga.
Thursday, April 10, 2008
Slank Terselamatkan Al Amien (Apalah Arti Sebuah Nama)
Menurut Anda para tamu kehormatan blog saya ini, apakah benar lirik Slank itu terbukti nyata? Perhatikan ya, nih liriknya:
"Mau tau gak mafia di Senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit."
Salut ya buat keberanian Slank. Mereka jadi ikon musik Indonesia, hidup di dunia gemerlap selebritis tapi nurani tetap jalan, mendengarkan suara-suara akar rumput yang nyaris tak terdengar (baca: didengar, red). Persis seperti lantangnya Iwan Fals zaman dulu.
Malu tidak ya anggota DPR yang lainnya? Harusnya malu dong, paling tidak ini adalah semacam warning, biar berpikir matang sebelum bertindak. Jangan tergoda dengan uang haram. Saya jadi ragu, benar tidak sih, kalau anggota dewan yang terhormat itu gajinya cukup besar? (Koq ya masih ada yang korupsi gitu lowh...) Tapi namanya juga manusia sih, mana ada yang tahan lihat duit banyak depan mata. (Saya saja mungkin nggak tahan tuh hehe)
Wednesday, March 12, 2008
NADA MIRING SELALU ADA

Nah, dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar istilah komentar miring atau nada miring. Lebih ilmiah lagi kalau kita menyebutnya dengan istilah kritik yang tidak membangun. Maksudnya, kritik yang ditujukan untuk melemahkan atau menyerang sebuah tulisan, karya, komentar, atau pembicaraan lawan. Sudah barang tentu, jika dilihat dari tujuannya pastilah mengarah ke hal yang negatif.
Contoh dari nada miring ini, banyak sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari, dari mulai contoh kecil, remeh-temeh bin ringan, sampai contoh yang agak berat. Untuk contoh yang kecil-kecil misalnya, Anda sudah bekerja sekuat tenaga dengan hasil yang menurut Anda sudah perfect, cum laude atau maksimal atau sangat memuaskan semua pihak. Tapi, ternyata tanpa diduga teman Anda sendiri malah mengatakan, "hmmm... biasa aja tuh...", atau lebih menohok lagi kalau dia menagatakan, "jelek amat sih...", atau "kurang inilah, kurang itulah...".
Contoh yang agak besar dan berat misalnya terjadi dalam perdebatan calon Presiden AS, antara Obama dan Hillary Clinton. Keduanya terus berusaha untuk menggali sisi lemah lawan politiknya, sehingga berhamburanlah nada-nada miring dari mulut keduanya. Contoh lainnya, ini terjadi ketika UGM kerjasama dengan Kedubes Inggris mengadakan pameran fotografi Islam karya Peter Sanders. Waktu itu yang menjadi pembicara dalam pembukaan pameran adalah; dubes Inggris, rektor UGM, budayawan Cak Nun, dan antropolog UGM Prof. Heddy Ahimsa Putra. Nah, waktu tamu undangan dan media sedang melihat-lihat foto hasil jepretan Peter Sanders, tiba-tiba ada yang nyeletuk dengan nada yang sangat miring, "Ngapain juga Cak Nun mengupas tentang pameran ini menurut persepsi dia, harusnya biarkan saja kita-kita ini sebagai penikmat yang menilai bagaimana foto-foto ini. " Komentar ini dilontarkan seorang bapak-bapak, sepertinya seorang dosen, kepada dua orang mahasiswi yang ada di ruangan pameran, tepatnya di sekitar halaman Masjid Kampus UGM itu.
Coba Anda ingat-ingat, pernahkah Anda mengalami dihujani nada-nada miring? Misalnya soal gaya berpakaian, soal pekerjaan, soal karya yang Anda buat, dan lain sebagainya. Ada saja nada miring itu kan? Beberapa tulisan di blog orang, termasuk blog saya ini (hehehe..), juga banyak yang berisi tentang komentar atau nada miring. Tapi, kita lihat kritik yang disampaikan itu membangun atau sebaliknya, dan jangan salah, ternyata nada miring itu juga bisa menghasilkan uang loh... Lihat saja, disekitar kita, betapa banyak kritikus-kritikus atau komentator-komentator bermunculan untuk berbagai disiplin ilmu. Menakjubkan kan? Dengan mengkritik, mereka bisa terkenal, muncul di tv, jadi selebriti, menjadi tokoh, menjadi idola, jadi ikon, menjadi sukses, bisa jadi juga jadi presiden, atau menjadi banyak uang alias kaya raya.
Sepertinya kita hidup di dunia ini memang harus siap mengahadapi kritik atau nada miring. Ya... apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat, nada miring akan selalu hinggap, nada miring akan selalu datang dengan senyumnya yang sinis menawan.