Friday, July 25, 2008

Fenomena Lagu Gaby


Mumpung belum terlalu telat, sebagai orang yang sehari-hari bergelut dengan musik, saya juga mau ikutan komentar. Ada beberapa kemungkinan tentang "wabah" lagu ini:
  1. 1. di-upload di internet secara sengaja oleh si penciptanya
  2. 2. di-upload di internet secara sengaja oleh orang yang bukan penciptanya (bisa teman si pencipta lagu atau orang yang ngerekam lagu dengan niat menyebarkannya lewat internet). Prosesnya dapat dilakukan dengan seizin atau tanpa seizin si pencipta.

Sementara itu, tentang banyaknya yang mengaku sebagai pencipta lagu (yang sebenarnya secara musikalitas lagu tsb sangat biasa sekali), inilah beberapa kemungkinannya:
1. Orang/band itu jujur dan memang dialah penciptanya
2. Orang/band itu tidak jujur alias bohong alias penuh dusta.
It's enough! ya... cuma dua kemungkinannya... itu saja.

Lalu apa untungnya ngaku-ngaku lagu yang bukan ciptaannya dengan melakukan kebohongan publik? Ya tentu saja alasannya sangat mudah ditebak, yaitu:
1. Ingin terkenal
2. Ingin populer
3. Ingin tenar
4. Ingin masuk di tipi
5. Ingin dapat uang
6. Ingin kaya
7. Ingin beli rumah
8. Ingin beli mobil
9. Ingin punya pacar
10. Ingin-ingin empukkkk hehehe

Nah... kalau soal bagaimana prosesnya hingga ada yang ngaku2 lagu tersebut adalah ciptaannya (kita sebut saja si pembohong), berikut adalah beberapa kemungkinannya:

1. Si pembohong melihat dan mendengar langsung ketika si pencipta menyanyikan lagu tersebut, kemudian merekamnya dalam ingatan/tape recorder/hp dngn fasilitas recording. Suatu hari dia mengklaim lagu itu sebagai ciptaannya.

2. Si pembohong melihat dan mendengar lewat internet, dia suka, kemudian dia genjrang-genjreng gitar di rumah dan mengklaim lagu itu sebagai ciptaannya.

3. Si pembohong nemu cd, kaset, atau flashdisk di suatu tempat misalnya tempat sampah, ternyata setelah didengerin berisi lagu Gaby 'Tinggal Kenangan'. Kemudian dia mengaku itu lagu ciptaannya.

Sikap saya sebagai orang musik:

1. Mengutuk keras para pembohong seperti emaknya si Malin Kundang
2. Mengajak para musisi untuk merasa malu dengan fenomena ini (malu koq ngajak-ngajak sih...)

Solusi:
Ingat loh...
sekali bohong akan diikuti dengan bohong-bohong lainnya
... Maka dari itu, dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya harus segera diadakan Sumpah Pocong, biar yang boong langsung jadi pocong hihihihi....

Monday, July 21, 2008

Hati yang Bersih


Teman-teman, saya baru pulang dari pertapaan. Ketika sedang asyik menjelajah sisi-sisi batiniah dan ruhiyah saya yang hampir keropos tergerogoti arus globalisasi, saya mendapati kesejukan air zamzam dan tetesan embun surgawi dari tulisan Ust. Arifin Ilham. Thank's buat temen2 di Grup FS My Islam khususon Om Malik a.k.a Om Maligh & Uni_Na_untum yang sudah posting copas pemikirannya Ust. Arifin di bawah ini:

Hati yang bersih adalah hati yang akan membawa kebahagiaan, kesuksesan, kemenangan, kedamaian, dunia akhirat. Sungguh sukses beruntunglah hamba Allah yang suci hatinya. Hati yang suci akan mudah mengakses, menerima, hidayah - petunjuk Allah, rahmat - kasih sayang Allah, maghfirah - ampunan Allah, inayah - pertolongan Allah, dan berkah demi berkah.Yang kedua, hati yang bersih, do’a pun menjadi mustijabah. Karena tidak ada hijab, tidak ada yang menghalangi dia dekat dengan Allah, karena bersih hatinya, bening.

Kemudian yang ketiga, hati yang bersih, subhanallah, kalau ia bicara, bicaranya pun menjadi hikmah. Qoulan tsakila, kata-kata yang berbobot.. Dan kalau hamba Allah yang hatinya bersih itu bicara, orang akan mendengar, orang akan menyimak, dan mudah mendapatkan hikmah, al ilmu dari mereka yang hatinya bersih.
Hati yang bersih, subhanallah, bersemainya sifat-sifat yang mulia. Ikhlash, sabar, syukur, qona’ah, tawadhu, tawakal, dan sebagainya, subur sekali sifat-sifat mulia tumbuh bersemai di hatinya. Kemudian hati yang bersih mudah meraih kekhusyu’an, mudah menerima ilham, intuisi-intuisi kebaikan dan perbaikan.

Hati yang bersih, subhanallah, akan mendapat kedudukan yang mulia, maqoomammahmuudah. Hati yang bersih, subhanallah, pusat perhatian para malaikat. Seperti bintang di tengah malam, menyala-nyala, mengundang perhatian para malaikat. Sehingga malaikat mendekatinya dan terus memujinya dan mendoakannya, agar ia terus dalam kebersihan, dalam kesucian di hadapan Allah.

Kemudian hati yang bersih, subhanallah, akan membuat hati itu bercahaya. Hati yang bercahaya akan menerangi pikirannya, bicaranya, penglihatannya, pendengarannya, tubuhnya bercahaya. Hai akhlak yang mulia. Kemudian ia bercahaya, maka siapapun yang mendekati dirinya akan merasakan berkah dari cahaya yang ada pada dirinya. Jangankan dia, orang mendekat dia pun akan merasakan keberkahan-Nya.

Kalau suami hatinya bersih, istrinya pun mendapatkan keberkahan. Kalau istri hatinya bersih insya Allah suami pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau orang tua bersih hatinya insya Allah anak-anaknya pun mendapat keberkahan dari Allah. Kalau pemimpin hatinya bersih insya Allah rakyat pun mendapatkan keberkahan dari kebersihan hatinya.

Hati yang bersih, firasatnya sangat tajam. Hati yang bersih, syaithon tidak dapat menguasainya, silau mata syaithon melihat hati hamba Allah yang bersih, karena memancar cahaya.

Karena itu kita mohon kepada Allah agar hati kita dibersihkan oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosa yang mengotori hati kita, diperbaiki akhlaq buruk yang menjadi hijab di hati kita. Sehingga dengan hati yang bersih kita mendapatkan keberkahan demi keberkahan.


By Ustadz Arifin Ilham

Friday, June 06, 2008

Yang Tercecer dari Dialog Publik Amien Rais dan Cak Nun

Ada banyak persoalan di negeri ini. Ada banyak potensi di negeri ini. Ada banyak permata di negeri ini. Ada banyak sumber daya alam di negeri ini. Ada banyak seniman yang dapat membuat orang-orang bule melongo melihat orang Indonesia bisa ngeblues, ngejazz, nge-country, nge-gamelan, ngereggae, ngerock, ngesoul, ngegambus Arabian, ngindia, ngarawitan, ngedangdut apalagi, atau nggedebak-nggedebuk, atau ngesenian lainnya. Semuanya pasti bisa dilakukan orang Indonesia. Meminjam istilah Cak Nun, ada banyak cerita di negeri ini, dari kisah rajawali yang terkurung pada Babad Tanah Jawa lengkap dengan cerita mental inlander dan kompradornya Amangkurat I sampai cerita Puntodewo, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk Cangik sampai Butho versi masa kini.

Tapi, mental-mental komprador atau pelayan dan inlander masih berkeliaran memegang tampuk kekuasaan. Sampai kapan? Entahlah. Inilah sekelumit cerita yang diambil dari Dialog Publik di Gedung MM UGM yang berlangsung hari Kamis, 5 Juni 2008 kemarin. Sengaja saya sampaikan di sini, karena ini penting. Ini adalah PR anak bangsa yang peduli akan nasib bangsa ini di kemudian hari.

Dalam acara yang dihadiri sejumlah tokoh ini terungkap betapa negara kita ini sekarang sudah terjajah. Sejarah memang selalu berusaha mencari celah untuk bisa terulang. Kalau sejarahnya manis sih oke-oke saja, tapi kalau sejarahnya pahit ya nanti dulu. Bangsa ini dulu kenyang dengan pil lahit imperialisme dari zaman Portugis, Inggris, Belanda sampai si saudara tua Jepang. Sudah lama bangsa ini dikadalin VOC dan antek-anteknya. Yang terjadi sekarang bukannya hilang, tapi sebaliknya kita dijajah lagi lewat globalisasi ekonomi yang memang gombalisasi itu! Aset-aset negara sudah banyak yang terjual ke tangan asing. Istilah terbaru muncul korporatokrasi, begitu kata Pak Amien sebagai penulis buku Agenda Mendesak Bangsa; Selamatkan Indonesia! Malahan dalam waktu dekat, sebanyak 42 BUMN siap dijual ke tangan asing. Ini ditegaskan pula oleh pembicara lain, Dr. Drajad Wibowo, ekonom yang menjadi anggota DPR itu. Sementara Prof. Mochtar Mas’oed hadir sebagai pembedah yang jitu memaparkan bahwa buku Amien Rais itu merupakan buku yang punya tujuan seperti roman bertendens agar para pembacanya bertindak. Pak Amien pun mengakui, dia ingin setiap anak bangsa yang membaca bukunya (kabarnya sekarang sudah terjual 40.000 eks), akan marah melihat fakta-fakta yang ada didalamnya.

Pertanyaannya adalah kenapa musti marah? Ya, harus marah, karena faktanya sungguh hebat luar biasa. Sejak zaman Megawati sampai SBY berapa banyak BUMN yang terjual ke tangan asing. Singapura dengan Temasek-nya berhasil menguasai Indosat. Konsekuensinya, mereka bebas melakukan perang-perangan dengan peluru tajam di beberapa wilayah Indonesia khususnya Pulau Sumatera. Kabarnya, merekapun jadi bisa mengendalikan Satelit Palapa. Akibatnya apa? Ketika terjadi huru-hara di negeri ini, bisa saja jalur komunikasi antar Kodim, Korem, dan satuan militer lainnya terputus. Sungguh hebatkan? Begitu kurang lebih yang diungkapkan Amien Rais. Kalau ke-42 BUMN itu benar-benar lepas ke tangan asing karena sikap-sikap market friendly pemerintah, maka lengkaplah sudah bangsa ini menjadi bangsa yang tidak punya kedaulatan ekonomi. Selamanya kita hanya menjadi budak asing!

Bagaimana dengan Cak Nun? Kyai Mbeling ini langsung menantang Pak Amien, katanya, “Sudah saatnya Pak Amien, ini mendesak, saya melihat yang bisa hanya Amien Rais, ingat hidup adalah perbuatan!” Katanya seraya menyindir Ketua Pan Soetrisno Bachir yang akhir-akhir ini gencar beriklan dengan slogan yang tidak spektakuler itu. Ketika ditantang termasuk oleh beberapa penanya Pak Amien pertama kali hanya menjawab, “Masih banyak yang lebih muda, saya ini kan sudah hampir sunset.” Jawaban seperti ini cukup membuat orang yang pertama tidak mendukung Amien Rais untuk maju capres menjadi terperangah. Bagaimana tidak, seorang Amien Rais yang dulu terlihat begitu ambisius (mungkin karena tim suksesnya juga yang kurang smart melihat dan mengkaji budaya orang Indonesia yang tidak suka dengan orang-orang yang tampak terlalu ambisius), secara spontan terlihat begitu menolak secara halus. Tapi, dalam hati kecil saya, sikap inilah seharusnya yang lebih ditonjolkan dalam kampanye dulu-dulu ketika Pak Amien maju capres.

Kalau memang ada pemimpin yang komitmen untuk bersikap tegas pada IMF, World Bank dan kroni-kroninya, kenapa tidak? Buktinya sudah banyak, lihatlah Russia, Bolivia, Argentina, India, dan raksasa ekonomi Asia saat ini, China! Mereka bisa tegas terhadap korporatokrasi asing. Mereka cukup percaya diri untuk tidak menjadi inlander. Mereka cukup percaya diri untuk melakukan negosiasi ulang dengan kekuatan asing sang pengeruk kekayaan negeri sendiri. Persoalannya, sudah pede dan beranikah pemimpin kita saat ini? Kalau belum, berarti memang harus segera turun mesin! (Lagi-lagi meminjam istilah Pak Amien dalam dialog siang itu).

Dalam acara yang berlangsung hampir lima jam itu, sepertinya memang memacu semangat kebangsaan untuk menjaga aset-aset bangsa ini agar tidak lepas terus ke tangan asing. Misalnya, agar hasil Freeport juga dapat dirasakan oleh masyarakat sekitarnya. Agar kita dapat mengelola Sumber Daya Alam yang ada benar-benar dari ibu pertiwi, dikelola oleh rakyat, dan hasilnya juga untuk rakyat.

Setelah acara selesai, saya sempat menegur Pak Amien yang asyik dimintai tanda tangan untuk buku-buku yang sudah dibeli para peserta dialog. “Semoga jadi presiden Pak!” Sambil masuk mobil Pak Amien sigap menjawab, “ Amin… amin.”

Wednesday, June 04, 2008

Wanted: Public Enemy


Agaknya inilah yang terjadi akhir-akhir ini di negeri kita tercinta. Kadang kita tidak sadar, hampir setiap hari kita selalu mencari public enemy atau musuh bersama. Nampaknya mungkin benar, di negeri kepulauan ini ada pihak-pihak yang tidak suka dengan kedamaian. Mungkin hampir sama pemikirannya dengan negara-negara pembuat senjata. Mereka akan terus mengupayakan adanya perang di muka bumi ini. Kenapa bisa begini? Karena dengan adanya perang mereka dapat terus memproduksi senjata. Kalau tidak ada perang, industri-industri senjata milik mereka akan bangkrut, dollar juga tidak akan mengalir.

Kalau pihak luar tidak suka adanya kedamaian di Indonesia, memang masih masuk akal. Tapi, kalau elemen bangsa ini sendiri yang tidak suka bagaimana? Tentunya aneh bin ajaib. Apa kepentingan mereka hingga tega-teganya menginginkan negara ini bergolak? Apa mereka didanai asing yang ingin di negara ini terjadi perang saudara? Mungkin mereka tidak puas dengan kerusuhan Poso, atau damainya Aceh sekarang ini? Mereka mau antara umat Islam sendiri pecah! Ahmadiyah diadu dengan seluruh umat Islam, FPI diadu dengan Banser NU, Gus Dur diadu dengan Habib Rizieq, Islam konservatif diadu dengan Islam modern, NU diadu dengan Muhammadiyah, MUI diadu dengan JIL. Sungguh terbayang apa jadinya nanti jika semua elemen Islam di negara ini pecah. Apa kita mau jadi seperti Irak, dimana ketika Sunni dan Syiah tidak pernah akur, kemudian Amerika masuk dan hancurlah negara itu.

Seandainya dalam insiden monas itu saya punya helikopter sepuluh buah saja, saya akan tugaskan semua pilotnya untuk terbang rendah di atas monas dan berteriak lantang dengan pengeras suara yang super keras, “Hei kalian semua, sadarlah kalian itu sama-sama orang Islam! Sadar gak siiiiihhhh????!!!, Please deh, jangan bego-bego amat dooong… Ada yang seneng lho kalau kalian perang kayak gini terus... ”

Pelajaran apa yang dapat kita ambil dari insiden monas? FPI mau dibubarkan, Anda senang? Urusan BBM dan BLT terlupakan, pemerintah jadi sedikit lega karena perhatian publik jadi teralihkan ? Atau kita semua termasuk Anda jadi sadar, bahwa ada konspirasi yang sangat rapi dibalik semua ini? Untuk kemungkinan yang terakhir ini, Anda dapat membaca link ini, silakan klik http://www.jalansetapak08.wordpress.com

Coba pikir dengan hati, ini fakta, ini Indonesia, dan kejadian seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia!

Friday, May 16, 2008

Setiap Ganti Presiden BBM Naik


Judul di atas sebenarnya sudah berupa kesimpulan. Faktalah yang berbicara, siapapun orangnya yang memimpin negeri ini sepertinya tidak akan kuat untuk tidak ikut-ikutan menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM sudah menjadi hal biasa, jadi kenapa harus terlalu dipermasalahkan atau dipusingkan?

Apa benar orang-orang yang demo itu benar-benar sedih dengan naiknya BBM? Atau mereka hanya terprovokasi saja? Tapi, kalau dilihat sepintas sih memang jelas mereka kecewa dengan keputusan pemerintah SBY-JK, sampai-sampai jerigen (tempat minyak tanah) mereka buat seperti bola sepak, ditendang sana, tendang sini, oper sana, oper sini, kadang-kadang juga di smash atau dibanting-banting. Ibu-ibu tampak beringas pada barang yang biasa disayanginya.

Sungguh bentuk sindiran yang telak! Bagaimana ibu-ibu rumah tangga dengan pakaian khasnya (daster) bermain bola "jerigen" yang biasanya mereka gunakan untuk tempat menyimpan minyak tanah. Terlalu berlebihan? Tidak sih, justru mereka terlihat ekspresif walaupun kadang sambil tersenyum atau tertawa bersama.

Kenaikan BBM yang rencananya akan diberlakukan akhir Mei ini memang ditanggapi beragam oleh masyarakat. Ada yang biasa saja, ada yang sangat pasrah, ada yang sangat cemas, ada yang stress, ada yang marah-marah, bahkan ada juga yang turun ke jalan mereka berdemo menuntut SBY-JK atau menteri Purnomo Yusgiantoro untuk turun. Apa ini perlu? Dalam konteks sebuah negara demokrasi kejadian-kejadian demonstrasi nampaknya sudah menjadi satu keharusan. Demo itu harus ada di negara yang mengaku demokratis. Demikian halnya juga dengan Indonesia. Ada semacam analogi sederhana; Indonesia adalah negara demokrasi, di negara demokrasi, demonstrasi sudah menjadi hal biasa. Kesimpulannya, karena negara Indonesia adalah negara demokrasi, demonstrasi sudah biasa terjadi. Maka tidak heran kalau Wapres Jusuf Kalla mengatakan tidak takut dengan ancaman dan gelombang demonstrasi yang lebih besar untuk menolak rencana kenaikan BBM (Kompas, Jumat 16 Mei 2008). Wajar saja kalau beliau tidak takut, karena beliau sadar betul negara Indonesia ini adalah negara demokratis. Justru kalau tidak ada demonstrasi, negara ini bisa-bisa dicap sebagai negara yang dipimpin oleh penguasa otoriter.

Hidup di Indonesia harus membiasakan diri dengan naiknya BBM. Buat Anda yang bergaji besar dan hidup di atas garis kekayaan mau naiknya seberapa besarpun pasti tidak jadi soal. Akan tetapi, lain halnya bagi rakyat lainnya yang jumlahnya jauh lebih besar. Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan atau mungkin di dasar jurang kemiskinan tentunya akan menjerit, karena jelas hal ini akan semakin membuat mereka hidup miris dan terjepit di negara yang sebenarnya kaya raya ini.

Syekh Salthut ketika berkunjung ke Indonesia sangat kagum dengan keindahan dan kesuburan alam Indonesia, sehingga sang syekh menyebut negeri ini adalah potongan surga. Sekarang potongan surga ini sudah menjelma menjadi potongan surga yang salah urus. Hutan-hutan dibabat, pohon-pohon ditebas, alam tidak lagi dijadikan sahabat, sebaliknya terus disakiti. Jangan heran kalau satu saat alam juga yang marah, sekarangpun sudah banyak terjadi. Sebenarnya marahnya hanya pada satu dua orang saja, tapi imbasnya bisa dirasakan banyak orang.

Bagaimanapun juga, ke depan jalan masih panjang, harapan harus selalu tetap ada. Ingat, putus asa adalah dosa. Walaupun setiap ganti presiden BBM selalu saja naik, kita harus tetap berusaha, berdoa, dan tawakkal kepada-Nya. Tantangannya adalah, bisakah negara ini suatu saat nanti menghentikan tradisi BBM naik setiap ganti presiden? Mungkin saja bisa dengan syarat presidennya harus benar-benar sakti mandarguna dalam arti benar-benar ahli mengerahkan potensi SDM dan SDA, jangan sampai bisa tapi hasil utang sehingga nantinya rakyat juga yang susah, atau minimal malu karena punya negara yang utangnya banyak seperti zaman orde baru.

Wednesday, April 16, 2008

KETIKA CINTA KEMBALI KE KHITOH


Cinta itu suci, cinta itu murni, cinta itu malu merah merona, cinta itu tersenyum simpul, cinta itu diam hanya anggukan tersamar, cinta itu menembus jantung menggetarkan batin, cinta itu rindu, cinta itu menancapkan sebuah nama di lubuk kalbu, cinta itu indah, cinta itu senyum, cinta itu mendebarkan, cinta itu sulit diungkapkan, cinta itu anugerah ilahiah, cinta itu sunatullah, cinta itu agung, cinta sejati itu hanya bersandar dan berpasrah pada kebesaran cinta-Nya.

Hari ini saya menulis tentang cinta, karena beberapa fenomena percintaan yang terjadi belakangan ini. Yang paling menarik bagi saya antara lain; fenomena boomingnya Ayat-ayat Cinta, dan yang paling aktual adalah pernikahan ketua MPR Ustadz Hidayat Nur Wahid. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu kisah seorang teman yang tinggal di Istanbul Turki yang hari-harinya sedang dihujani dengan butiran-butiran merah muda bercahayakan cinta untuk seorang gadis teman kuliah (namanya sengaja saya tidak sebutkan demi privasinya, terlebih lagi dia begitu pemalu).

Dari ketiga fenomena percintaan yang saya ungkapkan di atas, terlihat adanya kesamaan; cinta diletakkan pada posisi sejatinya; begitu agung, suci, dan indah. Tidak ada proses pacaran yang terlalu lama, tidak ada sentuhan fisik, tidak ada pemaksaan kehendak, tidak ada amarah yang meledak-ledak, dan tidak ada kata cinta terucap. Yang ada hanyalah pergulatan batin sang tokoh, keinginan untuk menyempurnakan agama dan diri di hadapan Allah, dan hasrat untuk memiliki dengan tetap bersandar pada ridho dan kebesaran cinta-Nya. Sungguh indah tak terkira dan tak terlukiskan.

Pernah satu saat saya mendengar seorang teman berbicara seperti ini, “cinta sejati itu tidak ada!” Cinta sejati yang dimaksud adalah cinta antara dua manusia yang dimabuk asmara. Karena pada suatu saat, sangat mungkin dan pasti terjadi, cinta itu meluntur, memudar, kalau tidak padam sama sekali setelah melalui pertengkaran yang hebat, atau terpisahkan oleh ajal yang menjemput. Adapun cinta sejati seperti yang ada pada lirik-lirik lagu pop itu sebenarnya hanyalah demi kepentingan inustri dan budaya pop semata. Saya sangat setuju dengan pendapat teman saya yang musisi gitar lulusan ISI itu, bagaimanapun juga cinta sejati tidaklah bergaris horizontal, melainkan vertikal lurus dari jiwa-jiwa yang tenang penghuni bumi menuju Arasy ke hadlirat Allah SWT.

Saya di sini berpendapat momentum percintaan seperti tiga kisah cinta di atas, dapat membuka jalan yang sangat luas, lapang dan terang menuju kesejatian cinta bertahta. Memang benar kiranya, untuk membendung segala tipu daya gemerlap duniawi yang datang tak kunjung henti dan datang dengan genderang perang, semestinya disikapi dengan mengembalikan makna cinta yang sesungguhnya. Ini dapat terwujud ketika orang tua mengajari cinta Ilahi sejak dini, memagari anak dengan budi pekerti yang luhur dan norma-norma yang menjunjung tinggi kesalehan individu dan sosial. Sudah saatnya cinta kembali ke khitohnya yang suci, agung, dan indah.

Ketika hal ini sudah terjadi, bukan tidak mungkin Indonesia keluar dari urutan negara paling korup sedunia, akan makin sedikit kasus-kasus aborsi illegal buah pahit dari kecelakaan dan salahnya manajemen syahwat, makin sedikit pula kasus-kasus ibu yang tega membuang bayinya sendiri (naudzubillah!!!). Semoga makin bersih dan berjayalah pula negara ini nantinya. Semoga.

Thursday, April 10, 2008

Slank Terselamatkan Al Amien (Apalah Arti Sebuah Nama)

Hari ini saya membaca headline koran Jawa Pos, tertulis "DPR Batal Gugat Slank". Ya bisa jadi sih memang gara-gara Mas Al Amien itu. Saya koq rada gak sreg ya nulis "Al Amien", masalahnya ini kan gelar yang diberikan kepada panutan umat Islam, Nabi Muhammad saw, karena kejujurannya. Sementara Al Amien yang anggota komisi IV DPR itu, waduh jelas bedalah dengan Al Amien-nya Nabi. Mungkin harapannya dulu orangtua Mas Al (sebutan ini lebih enak deh kayaknya), biar si anak terkenal kejujurannya seperti Nabi saw. Tapi kenyataannya? Naudzubillah, sangat nista, seorang wakil rakyat, malah makan uang suap demi lancarnya pengalihfungsian hutan lindung menjadi kawasan industri dan ibukota Bintan.

Menurut Anda para tamu kehormatan blog saya ini, apakah benar lirik Slank itu terbukti nyata? Perhatikan ya, nih liriknya:
"
Mau tau gak mafia di Senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
."

Salut ya buat keberanian Slank. Mereka jadi ikon musik Indonesia, hidup di dunia gemerlap selebritis tapi nurani tetap jalan, mendengarkan suara-suara akar rumput yang nyaris tak terdengar (baca: didengar, red). Persis seperti lantangnya Iwan Fals zaman dulu.

Malu tidak ya anggota DPR yang lainnya? Harusnya malu dong, paling tidak ini adalah semacam warning, biar berpikir matang sebelum bertindak. Jangan tergoda dengan uang haram. Saya jadi ragu, benar tidak sih, kalau anggota dewan yang terhormat itu gajinya cukup besar? (Koq ya masih ada yang korupsi gitu lowh...) Tapi namanya juga manusia sih, mana ada yang tahan lihat duit banyak depan mata. (Saya saja mungkin nggak tahan tuh hehe)
Makanya, pikir-pikir lagilah yang punya niat jadi pejabat, wakil rakyat, atau sebagainya. Godaannya terlalu berat. Ingat kata Zainuddin MZ, "harta, tahta, wanita, bisa bikin orang buta."
Akhir kata, Masya Allah, please ya Tuhan kami, berilah kami pemimpin yang benar-benar Al Amien. Kami tidak butuh pemimpin-pemimpin bernama bagus, tapi kelakuannya tidak patut kami tiru. Mendingan namanya Paijo, si Bedul, si Sontoloyo, si Dadap atau si Waru, tapi perilakunya jujur seperti Al Amien yang hidup di zaman Jahiliyyah Arab dulu. Amiiieeen.

Wednesday, March 12, 2008

NADA MIRING SELALU ADA


Suka musik atau bisa memainkan alat musik, misalnya gitar atau piano? Kalau Anda bisa, pasti tahu, pada tangga nada do,re,mi itu, pasti ada nada yang turun atau naik setengah. Selain kita mengenal nada mayor dan minor, kita juga kenal dengan nada yang turun setengah (mol) dan nada yang naik setengah (kres). Inilah yang disebut dengan nada miring.

Nah, dalam kehidupan sehari-hari kita seringkali mendengar istilah komentar miring atau nada miring. Lebih ilmiah lagi kalau kita menyebutnya dengan istilah kritik yang tidak membangun. Maksudnya, kritik yang ditujukan untuk melemahkan atau menyerang sebuah tulisan, karya, komentar, atau pembicaraan lawan. Sudah barang tentu, jika dilihat dari tujuannya pastilah mengarah ke hal yang negatif.

Contoh dari nada miring ini, banyak sekali kita jumpai di kehidupan sehari-hari, dari mulai contoh kecil, remeh-temeh bin ringan, sampai contoh yang agak berat. Untuk contoh yang kecil-kecil misalnya, Anda sudah bekerja sekuat tenaga dengan hasil yang menurut Anda sudah perfect, cum laude atau maksimal atau sangat memuaskan semua pihak. Tapi, ternyata tanpa diduga teman Anda sendiri malah mengatakan, "hmmm... biasa aja tuh...", atau lebih menohok lagi kalau dia menagatakan, "jelek amat sih...", atau "kurang inilah, kurang itulah...".

Contoh yang agak besar dan berat misalnya terjadi dalam perdebatan calon Presiden AS, antara Obama dan Hillary Clinton. Keduanya terus berusaha untuk menggali sisi lemah lawan politiknya, sehingga berhamburanlah nada-nada miring dari mulut keduanya. Contoh lainnya, ini terjadi ketika UGM kerjasama dengan Kedubes Inggris mengadakan pameran fotografi Islam karya Peter Sanders. Waktu itu yang menjadi pembicara dalam pembukaan pameran adalah; dubes Inggris, rektor UGM, budayawan Cak Nun, dan antropolog UGM Prof. Heddy Ahimsa Putra. Nah, waktu tamu undangan dan media sedang melihat-lihat foto hasil jepretan Peter Sanders, tiba-tiba ada yang nyeletuk dengan nada yang sangat miring, "Ngapain juga Cak Nun mengupas tentang pameran ini menurut persepsi dia, harusnya biarkan saja kita-kita ini sebagai penikmat yang menilai bagaimana foto-foto ini. " Komentar ini dilontarkan seorang bapak-bapak, sepertinya seorang dosen, kepada dua orang mahasiswi yang ada di ruangan pameran, tepatnya di sekitar halaman Masjid Kampus UGM itu.

Coba Anda ingat-ingat, pernahkah Anda mengalami dihujani nada-nada miring? Misalnya soal gaya berpakaian, soal pekerjaan, soal karya yang Anda buat, dan lain sebagainya. Ada saja nada miring itu kan? Beberapa tulisan di blog orang, termasuk blog saya ini (hehehe..), juga banyak yang berisi tentang komentar atau nada miring. Tapi, kita lihat kritik yang disampaikan itu membangun atau sebaliknya, dan jangan salah, ternyata nada miring itu juga bisa menghasilkan uang loh... Lihat saja, disekitar kita, betapa banyak kritikus-kritikus atau komentator-komentator bermunculan untuk berbagai disiplin ilmu. Menakjubkan kan? Dengan mengkritik, mereka bisa terkenal, muncul di tv, jadi selebriti, menjadi tokoh, menjadi idola, jadi ikon, menjadi sukses, bisa jadi juga jadi presiden, atau menjadi banyak uang alias kaya raya.

Sepertinya kita hidup di dunia ini memang harus siap mengahadapi kritik atau nada miring. Ya... apapun yang kita lakukan, apapun yang kita perbuat, nada miring akan selalu hinggap, nada miring akan selalu datang dengan senyumnya yang sinis menawan.

Thursday, January 17, 2008

ANTARA SOEHARTO, PAK HARTO, DAN MANTAN PRESIDEN SOEHARTO


Dunia mengenal nama Soeharto sebagai salah satu presiden yang cukup lama berkuasa di sebuah negara. Di Afrika, juga dikenal presiden Ganssingbe Eyadema yang menjabat sebagai Presiden Togo setelah mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 1967, dan masih memenangkan pemilu di tahun 2003 (Koran Tempo, Senin, 7 Februari 2005).
Soeharto yang juga biasa dipanggil Pak Harto, begitu dikenal dan disegani sebagai orang nomor satu di republik ini. Terlepas dari kebijakan dan trik-trik politik yang dijalankan pemerintahannya waktu itu, sebagian besar tentunya kita tahu dan sangat mengenal senyumnya yang khas, dan gaya bahasanya dengan idiolek tersendiri, misalnya penggunaan akhiran –ken, penggunaan kata “daripada” yang seringkali tidak tepat dalam penempatannya.

Mari kita cermati saja apa yang sekarang ini terjadi ditengah santernya pemberitaan mengenai sakitnya sang jendral besar itu. Banyak media seperti tidak mempunyai keseragaman dan konsistensi dalam menulis atau memberitakan tentang sang mantan presiden itu. Hal ini bisa dilihat dari media televisi misalnya. Ketika presenter membaca berita utama yang berjudul “Sakitnya Soeharto”, si reporter yang terjun di lapangan melaporkan dengan berulang kali mengatakan, “Pak Harto”. Tapi, ketika terjadi dialog antara presenter dengan reporter, si presenter akan mengikuti sang reporter dengan mengatakan, “Reporter… bagaimana keadaan Pak Harto sampai saat ini?”

Tentunya kejadian di atas hanya sebuah contoh kecil dari inkonsistensinya media ketika memberitakan tentang sang mantan presiden yang bernama asli Soeharto itu. Masih banyak contoh lainnya yang sebenarnya masih bisa dipaparkan di sini.

Bisa jadi ketika sebuah media massa memberitakan Soeharto dengan beragam pemberitaan dari mulai sakitnya, perjalanan hidupnya, keluarganya sampai berbagai kisah-kisah uniknya, memang semua itu sudah diberikan pakem-pakem yang harus dipatuhi oleh setiap wartawan, reporter, presenter, atau kontributor. Termasuk dalam hal pemilihan kata; memakai Soeharto saja, Pak Harto, atau berulang kali menyebut Mantan Presiden Soeharto.



Rasa Bahasa

Sebuah media yang pemilik saham terbesarnya adalah orang yang sangat dekat atau salah satu dari keluarga cendana, tentunya tidak akan memilih kata Soeharto. Secara rasa bahasa, hal ini akan terdengar atau terlihat kurang sopan. Sebagai orang timur yang diajarkan untuk menghormati orang tua atau orang yang usianya lebih tua, tentunya hal ini akan sangat penting. Mengingat tidak mungkin, seseorang akan menyebut langsung nama orang, padahal orang itu usianya sama dengan orang tua kita.

Rasa bahasa, memang memainkan peran signifikan pada saat seorang editor bahasa menghadapi naskah-naskah berita/ feature/ wacana opini dari wartawan atau penulis. (Jokomono, Suara Merdeka, 3 September 2003). Bagaimana dengan frasa “Pak Harto”? Justru inilah yang secara rasa bahasa, sangatlah sopan, menghormati, dan menghargai. Frasa “Pak Harto” dapat disejajarkan dengan frasa “Bung Karno”, “Bung Tomo”, “Bu Mega”, “Pak Amien” atau “Gus Dur”. Artinya ketika kata sandang itu dilekatkan dengan nama orang, akan sangat berdampak pada etika. Tentunya hal ini tidak terlepas dari nilai culture yang ada di Indonesia.

Adapun frasa yang sangat netral adalah “mantan presiden Soeharto”. Walaupun secara gramatikal frasa ini agak janggal – seharusnya mantan presiden RI, Soeharto-- tapi dari segi etika dan kenetralan berita, frase ini cukup banyak digunakan oleh para wartawan atau penulis. Sang editor, wartawan, reporter, atau penulis akan merasa netral dan tidak terlalu terbebani dengan predikat sopan-tidak sopan atau memihak-tidak memihak.



Fenomena Bahasa

Penyebutan “Soeharto”, “Pak Harto”, atau “mantan presiden Soeharto”, yang sudah terjadi sejak mantan penguasa orde baru itu lengser, merupakan sebuah fenomena bahasa yang cukup unik. Dari penggunaan salah satu penyebutan itu, kita dapat mengetahui mana media yang secara konsisten sangat menghormati atau membenci sang jendral besar yang sekarang sedang sakit dimakan usia itu. Pun kita juga dapat mengetahui mana media yang sangat netral dalam pemberitaannya. Bagaimana dengan Anda?

Monday, December 17, 2007

MAMAMIA OH MAMAMIUL


Lagi-lagi ngomentarin tv. Habis, mau bagaimana lagi, di rumah, media yang bisa dinikmati secara audio visual kan memang cuma tv.


Yuk, kita sekarang ngomentari soal acara Mamamia. Selagi masih bisa komentar, kenapa tidak? Iya kan?

Sebenarnya acara yang dipandu Eko Patrio itu, secara rating lumayan (ini katanya lho). Tapi, rating tinggi memang tidak mewakili kualitas kan? Yup, betul itu! Bahkan terbalik 180x2 derajat.

Acara Mamamia ini hanya sekedar penggambaran betapa banyak orang tua kita yang habis-habisan dalam mengeksploitasi anak-anak mereka.

Tapi kan anaknya juga mau dieksploitasi? Itulah salah satu faktor penyebabnya. Jadi sejujurnya dua-duanya klop! Anaknya ingin tenar, ingin jadi artis, ingin jadi selebritis. Nah... si mama ingin membantunya sekuat yang dia bisa.

Disinilah kemudian muncul, kesimpulan sederhana, menjadi artis itu adalah segala-galanya. Apapun harus dilakukan! Karena menjadi artis pasti duitnya banyak!!! Simple kan?

Coba bayangkan, apa jadinya bangsa ini kalau pikiran semua ibu-ibu sama seperti pikiran ibu-ibu yang ikut Mamamia itu? Apa tidak gaswat bangsa ini? (Maaf saya memang agak berlebihan, dan sok perhatian pada hal kecil seperti ini). Tapi, jangan salah, kalau memang betul rating acara ini tinggi, artinya pola pikir semacam para "mama" itu bisa saja "menular" secara cepat kepada seluruh "mama" yang ada di Indonesia ini. (Maaf, lagi-lagi saya terlalu berlebihan).

Soal tayangan Mamamia ini teman saya di friendster pernah bilang begini, "Itu kan tayangan yang menggambarkan seorang ibu yang ingin anaknya masuk ke neraka!" Wuih, syereeemm amat ya. Kalau saya sih tidak seekstrim itu, cuma memang risih saja sih pas melihat, seorang ibu yang berjilbab sangat rapat, eh anak yang didampinginya malah memakai baju jenis vitamin A (maksudnya bagus untuk "kesehatan" mata para lelaki, red).

Ini sajalah uneg-uneg saya tentang Mamamiul eh Mamamia. Ada yang mau coments?

Saturday, October 27, 2007

Aliran Sesat Al Qiyadah


Masya Allah... begitu mudahnya orang bernama Ahmad Mosadeq itu mengaku Nabi baru, begitu mudahnya lidah orang biasa itu mengaku rosul, begitu mudahnya dia mengubah syahadat, begitu mudahnya dia membai'at orang untuk mengimaninya, begitu mudahnya dia untuk mempermainkan rukun Islam, begitu mudahnya dia mengajak orang orang lain tersesat seperti dirinya, begitu mudahnya dia mencorat-coret Al Qur'an, dan begitu mudah orang yang mengaku bernama Ahmad Mosadeq itu melakukan semua kebohongan itu.

Ada apa ini sebenarnya? Berbagai macam kemungkinan bisa menjadi penyebabnya. Kemungkinan pertama, Musadeq telah disesatkan syetan. Ketika dia mengikuti cara nabi untuk menerima wahyu, dia didatangi syetan idajil laknatullah. Bedanya hanya masalah tempat dan yang datang menghampirinya. Kalau Nabi Muhammad saw di Gua Hiro, si Musadeq ini di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat. Dari nama tempatnya saja (Gunung Bunder, red) sudah sangat tidak meyakinkan sama sekali.

Kemungkinan kedua, boleh jadi yang dikhawatirkan teman-teman FUI (Forum Umat Islam) memang benar. Ada sebuah sistem yang memang disengaja dan direncanakan untuk memecah belah umat Islam di Indonesia tercinta ini. Tapi, kemungkinan ini masih perlu pembuktian atau investigasi yang mendalam dan menyeluruh, termasuk menelusuri dari mana pasokan dana yang membiayai semua kegiatan Al Qiyadah Al Islamiyah Mosadeq dan pengikutnya.


Nabi Palsu Sudah Ada sejak Dulu

Nabi-nabi palsu seperti si Mosadeq ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Sejak zaman Nabi Muhammad saw sudah ada, seperti Musailamah al-Kadzdzab dan Aswad al-’Ansiy. Untunglah dia hidup Indonesia, coba kalau hidup di negara-negara Islam jazirah Arab, kemungkinan besar dia sudah divonis mati.

Selengkapnya tentang sejarah Nabi palsu ini, saya copy paste semua saja dari Ar Risalah On line. Selamat membaca, semoga menjadi tambahan pengetahuan.



Klaim Nabi Palsu

(33) Setiap klaim kenabian setelah beliau (Nabi Muhammad saw) adalah kesesatan dan hawa nafsu

Konsekuensi dari keyakinan bahwa Nabi Muhammad n adalah nabi yang terakhir dan penutup para nabi, dapat dipastikan bahwa setiap orang yang mengklaim atau mendakwakan diri sebagai nabi, maka dia adalah seorang pendusta. Sekalipun orang yang mengaku sebagai nabi itu mendatangkan sesuatu di luar kebiasaan. Sebab sesuatu yang di luar kebiasaan itu bisa saja didatangkan oleh seseorang dengan bantuan setan.

Jauh-jauh hari, Nabi Muhammad n telah memberitahukan kepada kita akan adanya orang-orang yang akan mengaku sebagai nabi. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya akan ada tigapuluh orang pendusta di tengah-tengah umatku. Semuanya mengklaim sebagai nabi. Aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Di antara para nabi palsu itu ada yang berani mengklaim diri sebagai nabi sebelum Rasulullah n wafat. Adalah Musailamah al-Kadzdzab dan Aswad al-’Ansiy. Sebelum keduanya mendakwakan diri sebagai nabi, Rasulullah n sudah diberitahu oleh Allah tentang ihwal keduanya. Beliau bersabda, “Ketika aku sedang tidur, dibawakan kepadaku perbendaharaan bumi, kemudian diletakkan dua gelang emas di atas kedua telapak tanganku, maka beratlah terasa olehku. Kemudian diwahyukan kepadaku, supaya aku meniup kedua gelang itu. Maka kutiup keduanya. Aku takwilkan keduanya itu dengan dua orang pendusta, yang aku berada di antara keduanya. Orang itu ialah penguasa Shan’a dan penguasa Yamamah.”
Berikut ini sekilas tentang beberapa orang yang mendakwakan diri sebagai nabi itu:
Aswad al-’AnsiyNama Aswad al-’Ansiy sebenarnya adalah Abhalah bin Ka’ab al-’Ansiy. Dia adalah kepala Bani Madzhij di daerah Yaman. Dia seorang tukang tenung (santet), tukang sihir, dan seorang yang kaya raya di Shan’a. Dia sangat berpengaruh di kalangan kaumnya dan banyak yang terpikat kepadanya karena kelebihannya. Banyak orang yang kagum kepadanya karena menyaksikan sihirnya yang menakjubkan. Pada akhir tahun ke-10 Hijriyah, Aswad telah memproklamir-kan diri sebagai nabi yang ditunjuk oleh Allah. Menurut pengakuannya dia didampingi oleh dua malaikat yang memberitahukan kepadanya apa saja yang telah dan akan terjadi. Kedua malaikat itu bernama Suhaiq dan Syuqaiq. Sebenarnyalah kedua makhluk yang mendampingi Aswad adalah setan yang biasa mendampingi tukang sihir dan tukang tenung.Setelah Aswad mendakwakan diri sebagai nabi, dia mendapat pengikut yang tidak sedikit. Dalam waktu singkat, dia telah menaklukkan beberapa suku yang berdekatan dengan kabilahnya. Akhirnya, dia dapat merebut kerajaan yang berada di bawah pemerintahan Syahar bin Bazan, gubernur yang diangkat oleh Nabi n di bawah pemerintahan Islam Madinah, yang berkedudukan di Shan’a.
Setelah mendengar berita bahwa ibu kota negeri Yaman telah ditaklukkan oleh Aswad al-’Ansiy dan janda Syahar yang muslimah dipaksa menjadi gundik Aswad, Nabi n mengirim surat kepada Mu’adz bin Jabal, yang mengemban amanat dakwah di Yaman. Pesan Nabi n adalah sebagai berikut:
-Mu’adz dan kaum muslimin di bawah kepemimpinannya mestilah tetap berpegang teguh kepada ajaran Islam, dan jangan sampai tertipu atau terpengaruh oleh Aswad.-Kaum muslimin yang berada di Yaman harus bertindak tegas terhadap Aswad dengan cara memerangi dan merebut kembali daerah-daerah yang sudah dikuasainya.
Semua pesan Nabi n diperhatikan benar oleh kaum muslimin Yaman. Mereka berusaha untuk membinasakan Aswad dengan keyakinan, bila Aswad dapat dibunuh, para pengikutnya tentu akan bubar.Aswad berhasil dibunuh oleh Fairuz ad-Daylamiy di dalam istananya sendiri saat dia mabuk. Fairuz dapat membunuh Aswad atas bantuan Marzabanah, janda gubernur Syahar yang dipaksa menjadi gundik Aswad. Fairuz memenggal leher Aswad dan tamatlah riwayatnya.

Musailamah al-KadzdzabNama asli Musailamah adalah Harun bin Habib al-Hanafiy. Dia adalah kepala suku Yamamah. Pada tahun ke-10 Hijriyah, dia bersama rombongannya sebagai utusan dari Bani Hanifah datang menghadap Nabi n di Madinah dan memeluk Islam. Namun sekembalinya dari Madinah dia berbalik menjadi kafir, murtad. Dia mendakwakan diri sebagai Nabi. Musailamah mengirim surat yang dibawa oleh dua orang utusannya kepada Nabi n. Isi suratnya sebagai berikut, “Dari Musailamah utusan Allah kepada Muhammad utusan Allah. Kesejahteraan semoga dilimpahkan atasmu. Aku telah bersekutu dalam urusan kenabian ini denganmu dan bagi kami separuh tanah dan bagi Quraisy separuh tanah, tetapi kaum Quraisy adalah kaum yang melampaui batas.”
Rasulullah n membalas surat Musailamah. Surat beliau berbunyi,“Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah kepada Musailamah si pendusta. Kesejahtera-an semoga dilimpahkan atas orang yang mengikut petunjuk yang benar. Bahwasanya bumi itu milik Allah, akan diwariskan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dari sekalian hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa.”
Meskipun Nabi n telah menyatakan Musailamah sebagai pendusta, dia tetap mendakwakan diri sebagai utusan Allah. Bahkan, dia mengaku telah menerima wahyu. Puluhan ayat palsu disampaikannya kepada para pengikutnya. Musailamah berhasil mendapat banyak pengikut dari kabilah-kabilah yang berdekatan dengan Yamamah. Akhirnya, dia dapat dibunuh dalam pertempuran Yamamah yang dahsyat itu. Musailamah dibunuh dengan tombak oleh Wahsyi, seorang budak dari Habasyah yang ketika masih kafir berhasil membunuh Hamzah bin ‘Abdul Muththallib dalam perang Uhud.

Mirza Ghulam AhmadMirza Ghulam Ahmad lahir di Qadiyan, India, pada tahun 1835. Mula-mula Mirza Ghulam Ahmad mengaku sebagai mujaddid (pembaharu) dan pengikut Nabi Muhammad n. Namun dia juga mengaku menerima wahyu. Menurutnya, kedudukannya tidak sama dengan kedudukan Nabi Muhammad n karena Nabi n adalah Nabi terakhir dan tidak ada nabi lain setelahnya yang membawa syariat. Tetapi tidak menutup kemungkinan, Allah mengutus lagi nabi yang tidak membawa syariat. Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi yang tidak membawa syariat itu.Mirza Ghulam Ahmad berkata, “Nabi yang terakhir dan tunduk kepada Nabi n tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah nabi atau rasul dalam pengertian yang sebenarnya. Allah l memanggilku dengan sebutan nabi hanya berdasarkan isti’arah (kiasan) saja. Kenabianku merupakan pancaran dari kenabian Muhammad n Sebuah bayangan tidaklah memiliki wujud tersendiri atau wujud yang sebenarnya.”
Dia juga berkata, “Aku telah menyebutkan berkali-kali bahwa apa yang aku baca merupakan firman Allah l seperti halnya al-Quran dan Taurat. Aku adalah salah seorang nabi bayangan yang diutus oleh Allah l. Setiap muslim wajib taat kepadaku dan wajib mengimani bahwa aku adalah al-Masih yang dijanjikan akan datang. Karena itu, barangsiapa yang telah mengetahui dakwahku, tetapi dia tidak beriman kepadaku, maka sikapnya itu akan dihisab di akhirat, meskipun dia telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah l”
Dia juga berkata, “Al-Quran dan Nabi Muhammad n telah bersaksi atas kenabianku. Para nabi pun telah menentukan zaman kenabianku, yaitu zaman sekarang ini. Al-Quran juga telah menentukan zaman kenabianku itu. Langit dan bumi juga bersaksi atas kenabianku. Dan tidak seorang nabi pun kecuali ia bersaksi kepadaku.” Lalu dia membaca firman Allah, “…dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.” (QS. Ash-Shaff: 6)
Mirza Ghulam Ahmad meninggal pada tahun 1908.Semoga Allah senantiasa menyelamatkan kita dari berbagai fitnah yang dapat menjerumuskan kita ke jurang neraka.


Tentang adanya kasus aliran sesat ini, komentar yang paling saya tunggu adalah komentar Gus Dur, dan komentar Anda tentunya. Semoga Nabi palsu yang bernama Ahmad Mosadeq (saya yakin nama ini juga nama palsu) itu, mendapat ampunan dari Allah SWT sebelum ajal menjemputnya. Amiien.

Sumber Bacaan:
http://209.85.165.104/search?q=cache:9U5tD__4XCoJ:www.ar-risalah.or.id/index.php%3Foption%3Dcom_content%26task%3Dview%26id%3D22%26Itemid%3D50+nabi+palsu&hl=id&ct=clnk&cd=9&gl=id

http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/10/tgl/26/time/231843/idnews/845529/idkanal/10

Wednesday, October 03, 2007

Who Wants To Be A President?


Mau jadi Presiden? Ada beberapa hal yang harus Anda miliki untuk dapat menjadi seorang Presiden. Mengingat sekarang ini presiden dipilih rakyat, maka yang harus diingat adalah bagaimana meraih sebanyak mungkin simpati dari rakyat. Pertanyaannya, rakyat yang mana? Ya tentu saja tidak hanya rakyat mayoritas, tapi juga mencakup rakyat minoritas, termasuk juga simpatisan partai gurem.

Nah, kalau Anda sudah meraih simpati rakyat ini, Anda harus mempunyai sebuah kendaraan yang bernama partai. Tidak usah partai besar, partai kecil atau baru dibentukpun tidak jadi soal, asalkan partainya berazas nasional. Kenapa harus nasional? Karena cakupannya lebih luas. Kalau istilah iklannya, "jangkauan luas".

Jangan lupa untuk menguasai lebih dari tiga bahasa, jangan hanya Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Sunda saja (just like me hehe). Nah, kalau sudah begini Anda sudah siap maju, tapi nanti dulu, pikirkan lagi, apakah Anda sudah dikenal seluruh rakyat Indonesia? Apakah wajah Anda sudah banyak dilihat oleh para pemirsa TV seantero Nusantara? Kalau belum, pikir-pikir lagi deh untuk melangkah. Bagaimanapun juga Anda harus terkenal dulu, inilah konsekuensi dari pemilihan secara langsung. Maka, jangan segan-segan untuk selalu mencuri perhatian para wartawan atau reporter TV agar Anda diekspos. Bagaimanapun juga TV sudah menjadi salah satu decision maker di negara-negara demokratis, termasuk di Indonesia tercinta ini. Sekali mengecewakan saja, Anda bisa saja didepak atau ditendang dari dunia ekspos pertelivisian.

Kalau sudah begini, apakah sudah lengkap? Tentu saja belum, kalau bisa buatlah rakyat lebih simpatik lagi kepada Anda. Rumusnya, semakin Anda dipojokkan, dihina, disingkirkan, dieliminasi, didiskreditkan, maka dimata rakyat, Anda akan semakin disayangi, dikasihani dan dicintai. Ujung-ujungnya nama Anda semakin populer dan berkibar dimana-mana.

Jangan lupa, walaupun Anda sudah yakin minimal dapat mengantongi 70% suara, Anda harus tetap low profile. Ingat-ingatlah, jangan gunakan gaya-gaya kampanye Amerika di Indonesia ini, karena hanya akan merugikan Anda. Kampanye American style yang saya maksud misalnya penggunaan kalimat “Adul for President” atau "Ngehe for President" di mana-mana. Wah-wah bisa-bisa Anda dicap terlalu ambisius dalam mengejar RI 1. Bukannya untung, Anda bisa-bisa malah malah cuma dapat puntung.


OK, semoga tips singkat ini ada manfaatnya, kurang lebihnya mohon maaf lahir dan bathin. Jangan lupa kalau sudah jadi Presiden, cepat hubungi saya, bisa via email, HP, atau lewat telepati. Saya mau minta jatah kursi, kursi goyang juga nggak apa-apalah, hahaha. Good luck ya coy.
Sumber gambar: http://almihrab.com/

Tuesday, October 02, 2007

I Lost My Sense of Humour


Pernahkah Anda tertawa sampai terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, atau sampai berurai air mata karena saking lucunya? Kalau saya ditanya, jawabannya sering sih tapi dulu. Sekarang saya seperti kehilangan sense of humour.

Untungnya ini terjadi ketika saya melihat tayangan tv, misalnya acara-acara komedi, termasuk acara-acara sahur yang dipenuhi dengan pelawak-pelawak top negeri ini. Kadang-kadang saya terheran-heran sendiri, kenapa melihat tayangan-tayangan “lucu” itu paling banter sekarang ini saya hanya bisa senyum, bisa sih sampai tertawa sedikit hehe, tapi itupun kalau ada teman nonton.

Mungkin benar juga para pakar yang mengatakan bahwa tayangan-tayangan lelucon di tv saat ini cenderung mengekspoitasi gaya-gaya komedi tingkat bawah. Misalnya; mengeksploitasi kekurangan fisik, mengarah ke pornografi, kekerasan fisik, merendahkan para pemirsa, dan sebangsanya. Mungkin inilah penyebabnya.

Kalau mau jujur biar saya sebut saja ya, melihat tayangan Empat Mata Tukul atau sahur, lumayan saya masih bisa tertawa walaupun yang keluar cuma hehe atau hehehe. Tayangan Eko cs di stasiun Ramadhan paling banter saya hanya bisa senyum, terlebih saya cukup ilfeel, ketika masuk kuis yang cenderung menganggap pemirsa itu anak kecil semua, coba deh Anda tirukan “tut tut gud jes.. waw waaw” (iihh apaan sih? Emangnya kita anak TK Budi Asih atau Taman Anggrek Indah?). Ada lagi leluconnya Komeng cs yang cenderung kekerasan fisik, terus apa lagi ya… tayangan TPI masih lumayan lah.


Mungkin juga saya lagi sensi, atau malah lagi banyak masalah. Rasa-rasanya nggak juga, semua masih berjalan normal, aman, dan terkendali. Mungkin saat ini saya jenuh, dan benar-benar butuh sebuah film komedi, yang benar-benar super lucu yang bisa membuat saya terbahak-bahak. Mungkin sih semua itu mungkin.

Pernah suatu ketika saya membaca Kompas dan Kedaulatan Rakyat yang mengupas tentang lawakan TV. Sebelum para pakar pertelevisian menyatakan pendapatnya di koran-koran, saya memang seperti sudah lost my sense of humour. Gawat banget kan? Untungnya saya masih bisa tertawa terbahak-bahak, terpingkal-pingkal, atau sampai berurai air mata, ketika ketemu dengan teman lama, ngobrol dengan teman kerja, atau keluarga. Semoga ini semua segera berakhir dan saya bisa terbahak lagi seperti dulu ketika melihat tayangan si kotak ajaib televisi itu. Haruskah saya atau Anda juga berpuasa nonton tv biar tidak disebut sebagai "budak tv"?

Monday, September 24, 2007

MAKANAN IKHLAS ALA SUMANTO


Makanan iklas, memangnya ada? Yang sering kita dengar kan, makanan halal, makanan haram, makanan sehat, atau makanan tidak sehat. Makanan ikhlas, apaan sih?

Penasaran kan? Kalau kemarin hari Minggu tanggal 23 September 2007, Anda nonton tayangan sore TPI yang meliput kegiatan si manusia pemakan mayat, Sumanto, pasti Anda tidak akan penasaran.

Dengan style seperti anak Pramuka (memakai baret dan baju Pramuka, red), Sumanto ditanya oleh sang reporter tentang makanan yang dia sukai. Nah, mas Sumanto spontan menjawab “makanan yang enak itu ya… makanan yang ikhlas.” (kirain mau ngomong… ya daging kamu itu mas reporter…hiiiii ngeriii hehe)

Yang tadinya senyum-senyum melihat keadaan Sumanto sekarang, saya jadi agak berpikir. Makanan yang ikhlas, makanan ikhlas, makanan koq ikhlas. Apa mungkin maksud Sumanto itu sebenarnya adalah makanan halal, atau bisa juga maksudnya adalah makanan yang diberikan secara ikhlas.

Kalau maksud Sumanto makanan ikhlas adalah makanan halal, berarti dia salah ngomong. Tapi, kalau yang dimaksudnya adalah makanan enak itu makanan yang diberikan oleh orang secara ikhlas, dan merupakan rezeki dari Allah, berarti Sumanto sudah sadar tentang hakikat hidup. Wow, hebat nggak tuh?

Kalau dikaji lagi, makanan ikhlas itu bisa jadi makanan yang betul-betul diperoleh dengan jalan halal. Kalau sudah halal, dimakannya juga enak dan menyehatkan.
Kalau memang seperti ini yang dipahami Sumanto, bukan tidak mungkin dia sudah benar-benar sadar. Sukses ya mas Manto... Kalau ada di dekat saya, sampeyan mau tak salami (eh wani ora yo? wahh piye iki?!).

sumbergambar: http://www.tempo.co.id/harian/profil/gam/sumanto.jpg

Tuesday, September 18, 2007

BERKAH RAMADHAN

silakan klik gambar untuk memperjelas

Bulan suci Ramadhan tahun 1428 H kali ini rasanya lebih terasa indah dan tentramnya. Hawa yang sejuk bersahabat, hidup yang secara perlahan mulai tertata rapi, istri yang sudah tidak mual-mual lagi (hehe...), aplikasi cred card disetujui, hobby tanaman makin menjadi-jadi (weleh-weleh...), keinginan untuk menularkan ilmu ngaji Al Qur'an terwujud, masalah apapun selalu ada solusi, pas ngaji bareng istri tiba-tiba kami bisa bareng di kalimat "fi sabiilillaah" padahal surat yang dibaca berbeda (wallahua'lam saya blank untuk soal ini), dan masih banyak lagi berkah ramadhan yang mungkin saya lupa mengingatnya. Semoga persangkaan saya benar adanya.


Sekarang ini saya banyak mengingat apa-apa yang dikatakan oleh para ulama, misalnya keutamaan berzakat, bersedekah, menghomati orang tua dan membantunya sesuai kemampuan, dan lebih care kepada orang-orang di sekitar kita. Terus terang, saya selalu mengingatkan diri ini untuk selalu mengingat surat Al Maa'uun dalam Al-Qur'an.

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
2. Itulah orang yang menghardik anak yatim,
3. dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ayat ini (S.107:4-7) turun berkenaan dengan kaum Munafiqin yang mempertontonkan shalat kepada kaum Mukminin (ria) dan meninggalkannya apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan ataupun pinjaman. Ayat ini (S.107:4-7) turun sebagai peringatan kepada orang-orang yang berbuat seperti itu. (Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir dari Tharif bin Abi Thalhal yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
6. orang-orang yang berbuat riya
Riya ialah melakukan sesuatu amal perbuatan tidak untuk mencari keridhaan Allah akan tetapi untuk mencari pujian atau kemasyhuran di masyarakat.
7. dan enggan (menolong dengan) barang berguna
Sebagian mufassirin mengartikan: enggan membayar zakat.

Semoga saya tidak termasuk riya juga nih, menulis tentang hal ini. Saya hanya mengingatkan diri ini, selagi masih bisa. Syukur-syukur kalau Anda juga jadi semangat untuk berusaha jadi lebih baik dalam Ramadhan ini . Astaghfirullaah.


sumber gambar: http://emizahra.blogsome.com/

Saturday, September 15, 2007




CATUR VERSI DEDDY CORBUZIER


Nonton infotainment tentang pertandingan catur antara GM Utut Adianto lawan GM Deddy Corbuzier nggak? (GM-nya Deddy singkatan dari Grand Mentalist, red). Itu loh yang main caturnya pake melotot terus sepanjang permainan. Dari pada capek ngetik saya copy saja ya dari Suara Karya online, asli bikin ngakak.


CATUR Utut vs Deddy CorbuzierBerlangsung Ricuh
Sabtu, 8 September 2007

JAKARTA (Suara Karya): Pertandingan catur antara GM Utut Adianto dan Deddy Corbuzier berlangsung ricuh dan terhenti di langkah 13. Pertandingan dianggap batal setelah Utut merasa terganggu konsentrasinya dengan tingkah pola Deddy. Mentalist yang mengandalkan kekuatan pikiran untuk mempengaruhi orang itu terus menerus memelototi Utut. Tak hanya itu, Deddy juga beberapa kali memainkan jari-jarinya di meja dan sempat ditegur wasit.
"Di mana pun saya bermain catur tidak boleh mengganggu konsentrasi lawan. Saya mana bisa konsentrasi kalau diplototi terus seperti itu," ujar Utut.
Sementara itu Deddy mengakui kalau kekuatannya sebagai mentalist memang harus menatap terus wajah orang yang akan dipengaruhinya. "Memang seperti ini cara kerja saya," ujar Deddy.
Tampaknya Deddy memang tidak banyak mengetahui aturan permainan catur di mana masing-masing tidak boleh mengganggu konsentrasi lawannya. Keduanya berangkat dari persepsi yang berbeda. Deddy mengganggap apa yang dilakukannya sah-sah saja sementara Utut berangkat dari kode etik yang berlaku.
"Deddy kan ibaratnya datang ke wilayah saya, catur, jadi seharusnya dia bermain dengan aturan dan kode etik yang berlaku di catur. Saya mana tahu dia akan bermain seperti itu. Kalau dia mau main dengan versi dia, ya harusnya dibicarakan dulu, jadi saya siap," ujar Utut.
Diakui Utut dirinya tidak bisa berpikir dengan baik sehingga ia sempat memberikan gajahnya secara gratis. "Ini mau main catur atau main plotot-plototan," ujar Utut yang mengaku sempat melihat bidak catur yang dipegang Deddy berasap. (Syamsudin W)



Kayaknya mas Deddy bagus deh kalau lawan tokoh pahlawan imejiner favorit saya, siapa lagi kalau bukan Jendral Naga Bonar. Kebayang kan, yang satu pake trik mentalist, sang Jendral pake trik raja copet, wakakakakakakak. Pasti seru, bisa-bisa remis tuh alias nggak ada yang menang nggak ada yang kalah.

Sang jendralpun akan teriak "Bah... apa kata dunia, catur apaa ini bah!!! Aku diplototin terus, Kau pikir aku gentar lawan kau? Belum tahu saza kau!!! Buzzzzzzaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaanggggg sudahh kubilang zangannnlah kau berrrtemfuuurr, eeee bentemfuurrr pulaa kaw, MATILAH KAW!!!"

Wednesday, August 22, 2007

SUSAHNYA JADI CALON AYAH

Satu ketika saya dikabari positif oleh istri saya... Wah senang dong.
Satu ketika saya dikabari dokter bahwa istri saya harus bedrest... Wah mulai cemas.
Satu ketika saya tanya dokter, "Dok, memangnya bedrest itu tidak boleh ngapain saja sih?"
Dokter menjawab, "Ya... tidak boleh ngapa-ngapain."
"Termasuk tidak boleh nyapu, nyuci piring, masak, dan beres-beres kamar juga?" Saya kejar tuh dokter.
"Ya iyaaaaaaaaaaaa lahhh, termasuk masnya juga harus 'puasa', gitu maaaas!", kata dokter kalem.
"Waduuhhhh gaswat nihh, saya harus pontang-panting nih."
"Ya iyaaaaaaaaaaa lahhh, emang enak jadi calon ayah?"
"Waah dokter bisa aja..." Saya tersenyum hambar.

Satu ketika saya harus mengerjakan rutinitas sehari-hari ditambah rutinitas yang biasa dilakukan oleh istri saya.

Satu ketika saya bilang ke seorang wanita rekan kerja saya yang kira-kira baru 2 bulan ini melahirkan anak pertamanya, "Ternyata, susah ya jadi calon ayah."
Seketika itu juga dia menjawab, "Ternyata, susah juga loh jadi calon ibu."

"Wah... wah... nikmatnya hidup ini. " (Jaka sembung bawa peuyeum euy... kagak nyambung atuh euy!!!)



MUT-MUTAN VS MUTUNG-MUTUNGAN

Tulisan "VS", atau "versus" pada judul di atas, sebenarnya hanyalah sebuah kata yang saya gunakan untuk membedakan saja antara mut-mutan dan mutung-mutungan. Mut-mutan buat orang Jawa mungkin sudah banyak yang tahu artinya, kurang lebih artinya moody (bukan moody koesnaedi lohh, red). Sementara mutung-mutungan lebih jelas sisi negatifnya. Sebenarnya dengan kata "mutungan" saja orang bisa langsung paham artinya orang yang gampang mutung, atau orang yang gampang marah atau gampang kesal. Misalnya ketika dalam sebuah meeting, orang yang mutungan akan dengan cepat WO atau wolkout ketika pendapatnya tidak disetujui oleh forum. Jelek banget kan?
Nah... mut-mutan atau moody, nilainya bisa lebih positif daripada mutungan. Orang yang moody atau mut-mutan biasanya akan dengan mudah semangat ketika menghadapi suatu pekerjaan, tapi bisa juga tidak semangat sama sekali tanpa alasan.
Sekarang saya mau bertanya pada Anda, apakah Anda termasuk orang yang mut-mutan atau yang mutung-mutungan? Kalau saya tanya sama teman-teman saya di grup Indonesia Friendster yang gelo-gelo itu, pasti jawaban mereka "mau tauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu ajah". Nah, bagaimana dengan Anda?
Kalau anda termasuk orang yang mut-mutan, SELAMAT !!!, berarti Anda sama dengan saya. Kita senasib sepenanggungan!!! Saya saja ketika menulis tentang hal ini, dalam keadaan sedang mood. Kalau tidak mood atau mut, mana mungkin saya bisa menulis ini, hehe...

Monday, August 20, 2007

PENGAMEN JADI SATPAM

"Hei... Arma Sebelas !!"
Saya menjawab sapaannya dengan tersenyum, sambil mengingat siapa orang itu.
"Hmmm... Arma Sebelas, radio tempat dulu saya kerja", masih berpikir.
"Heiiiii, saya ingat, dia itu orang yang dulu sering ngamen di bis kota jalur 15, tapi sekarang kemana style pengamennya, kemana topi merahnya, kemana sandal jepitnya, kemana jeans dan kaos oblongnya??? !!"
Semuanya berubah jadi stelan biru tua, gagah dengan sepatu PDH militer.
"Setelah lama di Jakarta, saya sekarang di sini, tuhh di kantor Esia yang bentar lagi mau launching", sambil menunjuk ke arah gedung baru di belakang kami.
Dia dulu sempat cerita mendapat hasil yang lumayan, dengan bekerja sebagai pengamen. Katanya, lumayan untuk menafkahi istri.
"Sekarang anakku sudah dua, mas..." Katanya sambil tersenyum.
Dari seragamnya saya tahu, dia sekarang menjadi seorang satpam di kantor Esia Jogja, persis di belakang warung tenda Soto Pak Marto jalan Diponegoro (yang tempenya khas, gurih dan kering).
Karena sudah delapan tahun tidak bertemu, kami berdua lupa nama masing-masing. Dia menyebut namanya, Ardan. Ya..saya ingat sekarang. Dulu mas Ardan ini, salah seorang pengamen yang sering saya ajak ngobrol. Dia banyak cerita tentang bagaimana kehidupan di jalanan, bagaimana dia bisa berani menikah walaupun masih bekerja sebagai pengamen.
"Orang kalau udah hidup di jalanan, lupa mas... Di jalanan itu dapat uang gampang, rata-rata 50 ribu sehari dapet, jelek-jeleknya 15 ribu laaahhh", katanya delapan tahun yang lalu.
Tidak terasa, dua porsi pesanan soto saya sudah selesai disiapkan Pak Marto. Waktunya pulang, saya menengok ke pos Jaga satpam Esia. Mas Ardan, sang satpam tersenyum dan hormat dengan gaya militer, dan saya pun membalasnya. Nguuung.. saya tancap gas.
Ternyata benar, nasib orang dapat saja berubah, dari pengamen menjadi seorang satpam.

Tuesday, July 17, 2007

Onthel Romantis

Hari Minggu malam atau malam senin, 15 Juli 2007 saya berangkat untuk siaran. Berangkat dari rumah kira-kira jam 19.30, siaran jam 20.00. Nah, di perjalanan saya menemukan sesuatu yang unik, dan hampir tidak ditemui lagi di jalanan kota Jogja. Apakah itu?? Saya melihat dari kejauhan ada orang seperti naik sepeda boncengan, antara laki-laki dan perempuan.

Semakin dekat, ternyata benar, sepertinya sepasang suami istri yang mau pergi kondangan, atau njagong. Dengan memakai batik, dan si laki-lakinya berpeci hitam, keduanya berboncengan, memakai sepeda onthel, disaksikan bulan yang terlihat agak remang-remang. Wah, romantis abis.

Saya jadi senyum-senyum dendiri, "koq ya masih ada ya... di jalanan kota Jogja orang njagong atau kondangan, memakai onthel, pake batik, suami istri, cuek banget. Sungguh unik, menarik, dan membuat saya agak menurunkan laju motor saya.

Sebenarnya, kalau di desa-desa kecil, pemandangan ini mungkin sudah biasa. Tapi, belum tentu juga, orang desa sudah banyak yang punya motor, bagus-bagus dan baru lagi. Sekarang orang lebih senang memakai motor walaupun jarak yang ditempuh cuma satu kilkometer. Hebat atau malas atau apa ini??

Ya agaknya, pemandangan yang saya lihat itu --sepasang suami istri berboncengan dengan onthel di jalanan kota, tepatnya di daerah kawasan cukup elite di Jogja, daerah Pogung Baru-- sungguh merupakan sebuah sindiran yang membuat saya tertegun dengan senyum dikulum.
Simple, langka, dan serasa mengembalikan Jogja ke tempo doeloe. Zaman ketika onthel masih membudaya.

Siapa tahu kedua suami istri ber-onthel itu sebenarnya punya motor, bahkan punya mobil, siapa tahu mereka hanya ingin bernostalgia, siapa tahu mereka adalah agen perubahan, siapa tahu mereka atlet balap sepeda, atau malaikat atau hantu??? Wah... saya jadi agak ngawur bin ngelantur. Ya sudah semoga ini bisa menggugah Anda agar tetap menjaga kesehatan, dan sadar akan pentingnya melihat apa yang ada di sekeliling kita.
Google